Senin, 19 April 2010

mad

She's staring at me, I'm sitting
wondering what she's thinking
Ummm Nobody's talking, cause' talking just
turns into screaming (Oooo)
And now as I'm yelling over her, she yelling over me,
all that that means is neither of us are listening,
and what's even worse, that we don't even
remember why we're fighting

So both of us are mad for nothing, (fighting for)
nothing, (crying for)
nothing, (oohh)

But we won't let it go for nothing, (come back for) nothing,
it should be nothing
to a love like what we got oh baby

I know some times it's gonna rain,
But baby can we make up now
cause' I can't sleep through the pain
(can't sleep through the pain)
girl I don't want to go to bed, mad at you
and I don't want you to go to bed, mad at me
no I don't want to go to bed mad at you
and I don't want you to go to bed, mad at me (oh noo)

Umm
and it gets me upset girl when you're constantly accusing
(asking questions like you already know)
hey we're fighting this war baby when both of us are losing
(this ain't the way that love is
supposed to go, what happened to
working it out?)
We fall into this place where you ain't backin
down, and I ain't backin down,
so what the hell do we do now?

So its all for nothing, (fighting for)
nothing, (crying for)
nothing... (oohh)

But we won't let it go for nothing, nothing,
it should be nothing
to a love like what we got oh baby

I know some times it's gonna rain,
But baby can we make up now
cause' I can't sleep through the pain
(can't sleep through the pain)
girl I don't want to go to bed mad at you
and I don't want you to go to bed, mad at me
no I don't want to go to bed mad at you
and I don't want you to go to bed, mad at me (oh noo)

Oh baby this love ain't gone be
perfect, (perfect perfect oh)
And just how good it's gonna be
We can fuss and we can fight long as
everythings alright between us before
we go to sleep...

Baby we're gonna be...

--terima kasih mas Ne Yo, sudah membuatnya lebih simple
.saya belajar sesuatu tentang diri sendiri, bahwa semalu apapun mengakui kemarahan kita ( syndrom-ingin-selalu-tampak-baik-baik-saja),tapi rasa nyaman itu sepadan dengan perasaan keki.trust me!
Thanks baby for being u.xoxoxoxo

Jumat, 25 September 2009

Takdir Perjodohan

Sejujurnya saya mengakui bahwasana saya adalah orang yang angin-anginan, atau untuk sebagian orang mengatakan semau gue , atau mungkin dibelahan dunia lain menggunakan istilah moody.
Itu seperti kutukan  untuk orang disekitar saya,  tidak ada suatu jaminan kepastian, dalam kasus pertemanan seringkali saya datang dan menghilang, saat ini hangat lalu kemudian bisa jadi sangat dingin. Untuk beberapa orang, situasi ini membuat frustasi dan memilih untuk tidak terlalu berharap akan konsistensi.

Mungkin ini juga melatar belakangi di delete-nya saya secara real dan secara network online, ha ha ha....
Cukup mengejutkan , tapi saya berusaha menghargai keputusan orang lain, semua orang punya cara berpikir yang membuat mereka merasa lebih nyaman menjalani hidup. Mungkin juga takdir perjodohannya memang hingga disana saja, jadi saya belajar untuk menerima bahwa semua sudah diatur oleh kekuatan yang lebih besar di luar sana ( ..ting tong ting tong ting tong....maksudnya a la musik The X-Files, tapi begitu dibaca lagi seperti dagang es dong dong ya?)

Ketika  saya  membaca buku karya Amy Tan, yang berjudul The Hundred Secret Senses selama tugas menjaga Bibi yang opname di Rumah Sakit saya merasa mendapat pencerahan.
Ceritanya tentang bagaimana orang disekitar tokoh utama itu ternyata adalah jiwa yang sama yang dia kenal di kehidupan terdahulu, yang bertemu lagi untuk menyelesaikan urusan ataupun kembali bersama karena memiliki janji sebelum meninggal. Bahkan orang yang dulu pernah begitu kejam dan mengkhianatinya akhirnya dilahirkan kembali menjadi anjingnya.
Mungkin begitu cara Shifu membantu saya memahami tentang takdir pertemuan dan belajar untuk melepaskannya ,karena pada akhirnya itu hanya akan menjadi keterikatan hati yang menyiksa.

 Saya bersyukur dengan melatih memancarkan pikiran lurus sangat membantu saya ketika mengalami keadaan pikiran yang penuh gundah gulana. Orang yang berpikir terlalu aktif kadang kala sering lupa untuk menyederhanakan keinginannya, so little time so much to do, begitu kata mas-mas dari grup Arwarna.
Terima kasih Shifu dan terima kasih untuk teman-teman yang masih berbagi perjalanannya dengan saya, untuk mereka yang telah terlepas dari hidup saya, saya ucapkan selamat jalan.

Jumat, 31 Juli 2009

Kepuasan

Tadi malam diajak oleh sahabat saya yang mendapatkan voucher makan, kami pergi ke sebuah restoran baru di kawasan Kuta. Letaknya di kawasan pertokoan yang masih baru, bahkan belum jadi sepenuhnya, instead of pengunjung, mayoritas orang yang hang out disana adalah kuli bangunan ( tidak bisa dikatakan bekerja karena mereka terlihat duduk-duduk merokok sambil menggoda cewe' yang lewat....ck ck ck....).

Restorannya sendiri, walaupun cukup terisi pengunjung tapi menurut reportase, beberapa bagian belum difinishing. Saya tidak akan menyebutkan nama restoran bersangkutan karena belajar dari kasus Prita, hiiiiiiy....
ogah ah masuk penjara gara-gara ngerumpi...

Melihat voucher berupa dim sum dan mi ayam, kami berasumsi bahwa ini adalah restoran cina a la tempat arisan keluarga besar yang berisi a'i - a'i berisik (judgemental habis), tapi kenyataannya ternyata lebih ke restoran cepat saji ( yang sayangnya tidak cukup cepat menyajikan makanannya----> mulai keliatan alasan tidak mencantumkan nama restoran,ha ha ha ha....)
Untungnya teh tarik pesanan saya rasanya boleh lah (mulai pulih pasca memesan teh tarik dengan rasa 'ajaib' beberapa waktu lalu), sehingga kegiatan menunggu dengan penuh ketidakpastian akan pesanan kami agak terobati.

Sekitar 20 menit pesanan datang (setelah dari lantai dua kami putus asa berharap nampan yang dibawa pelayan akan mampir ke meja kami...), makanannya secara keseluruhan bisa dibilang cukup enak, walaupun agak asin, tapi ada sesuatu yang kurang

Kami mulai menduga-duga (yang jelas bukan garam dong?ha ha ha..), hingga sampai ke kemungkinan karena masakannya tidak fresh dimasak sebelum disajikan. Lalu kami membandingkan dengan restoran cepat saji serupa tapi tak sama yang menggembar gemborkan harga anak kos-nya, memang rasanya cukup tapi karena tidak ada asap-asap mengepul khas baru matang, citarasanya jadi melempem.

Kesimpulan saya ketika pulang adalah ternyata kenyang tapi kurang puas lebih menyedihkan daripada puas tapi kurang kenyang. Uang bisa membeli makanan, tapi bukan kepuasan..