Tadi malam diajak oleh sahabat saya yang mendapatkan voucher makan, kami pergi ke sebuah restoran baru di kawasan Kuta. Letaknya di kawasan pertokoan yang masih baru, bahkan belum jadi sepenuhnya, instead of pengunjung, mayoritas orang yang hang out disana adalah kuli bangunan ( tidak bisa dikatakan bekerja karena mereka terlihat duduk-duduk merokok sambil menggoda cewe' yang lewat....ck ck ck....).
Restorannya sendiri, walaupun cukup terisi pengunjung tapi menurut reportase, beberapa bagian belum difinishing. Saya tidak akan menyebutkan nama restoran bersangkutan karena belajar dari kasus Prita, hiiiiiiy....
ogah ah masuk penjara gara-gara ngerumpi...
Melihat voucher berupa dim sum dan mi ayam, kami berasumsi bahwa ini adalah restoran cina a la tempat arisan keluarga besar yang berisi a'i - a'i berisik (judgemental habis), tapi kenyataannya ternyata lebih ke restoran cepat saji ( yang sayangnya tidak cukup cepat menyajikan makanannya----> mulai keliatan alasan tidak mencantumkan nama restoran,ha ha ha ha....)
Untungnya teh tarik pesanan saya rasanya boleh lah (mulai pulih pasca memesan teh tarik dengan rasa 'ajaib' beberapa waktu lalu), sehingga kegiatan menunggu dengan penuh ketidakpastian akan pesanan kami agak terobati.
Sekitar 20 menit pesanan datang (setelah dari lantai dua kami putus asa berharap nampan yang dibawa pelayan akan mampir ke meja kami...), makanannya secara keseluruhan bisa dibilang cukup enak, walaupun agak asin, tapi ada sesuatu yang kurang
Kami mulai menduga-duga (yang jelas bukan garam dong?ha ha ha..), hingga sampai ke kemungkinan karena masakannya tidak fresh dimasak sebelum disajikan. Lalu kami membandingkan dengan restoran cepat saji serupa tapi tak sama yang menggembar gemborkan harga anak kos-nya, memang rasanya cukup tapi karena tidak ada asap-asap mengepul khas baru matang, citarasanya jadi melempem.
Kesimpulan saya ketika pulang adalah ternyata kenyang tapi kurang puas lebih menyedihkan daripada puas tapi kurang kenyang. Uang bisa membeli makanan, tapi bukan kepuasan..
Jumat, 31 Juli 2009
Jumat, 24 Juli 2009
Pencil Drawing Artists
Dalam rangka memperdalam teknik menggambar, beberapa hari ini saya sibuk membrowsing(bahasa indonesianya jadi apa ya? menjelajah?) beberapa situs dari seniman pensil (kok terjemahannya jadi aneih ya?ha ha ha...eniwei kalian ngerti lah maksudnya kan?).
Yang muncul pertama adalah J.D Hillberry(www.jdhillberry.com). Karyanya memang supeerr realistik, dan bukunya seperti pedoman wajib pencil artist all over the world (I guess si bapak satu ini udah agak uzur). Yang membuat jaw dropping adalah teknik menggambar plesternya, bisa banget kayak plester beneran, katanya sih dia pake teknik Piezograph Giclee, udah digoogle tapi keluarnya kok penjelasan yang ga nyambung? ( o well...mungkin gw yang over bego, ha ha ha...).
Lalu ada Mike Sibley (yang blognya dengan sukses saya kintilin ). Pertama saya melihat gallerynya, bukan hanya terkesan akan detail, tapi ada perasaan bagaimanaaa gituuu..seperti terhipnotis (ini Mike Sibley atau Rommy Rafael ya?ha ha ha..)
Beberapa tipsnya sangat membantu, bahkan alat gambarnyapun mudah dicari di bumi Indonesia ini ( yang biasanya miskin perlengkapan gambar, not to mention muwahalllnya...Mbok ya pemerintah menghapus pajak impornya, kan bukan barang mewah..*meratap sambil duduk mencuci baju di pinggir kali*)
Hari ini saya menemukan site dari Brian Duey. Bukan hanya karyanya yang mempesona, tapi juga masih muda dan cute *gaya tersipu sipu dimulai*
Melihat karyanya pada tahun 2004 yang bahkan tidak 3 dimensi bertransformasi menjadi sangat realistik saat ini memberi saya semangat untuk terus berlatih. Saya pasti bisa.PASTI.
Kemiripan dari beberapa seniman diatas adalah penampilannya rapi (tidak seperti Mbah Surip look-a-like), bahkan ruang kerjanya sangat sederhana dan rapi. I Love it.
Saya merasa seperti anak kecil berbaju lebah di video klip Blind Melon yang akhirnya menemukan lapangan penuh lebah setelah sebelumnya berjalan dengan diiringi pandangan aneh dari manusia yang tidak berbaju lebah (aduh ketahuan anak angkatan jadul banget, ha ha ha...Alternative Rocks Yeahhhh).
Yang muncul pertama adalah J.D Hillberry(www.jdhillberry.com). Karyanya memang supeerr realistik, dan bukunya seperti pedoman wajib pencil artist all over the world (I guess si bapak satu ini udah agak uzur). Yang membuat jaw dropping adalah teknik menggambar plesternya, bisa banget kayak plester beneran, katanya sih dia pake teknik Piezograph Giclee, udah digoogle tapi keluarnya kok penjelasan yang ga nyambung? ( o well...mungkin gw yang over bego, ha ha ha...).
Lalu ada Mike Sibley (yang blognya dengan sukses saya kintilin ). Pertama saya melihat gallerynya, bukan hanya terkesan akan detail, tapi ada perasaan bagaimanaaa gituuu..seperti terhipnotis (ini Mike Sibley atau Rommy Rafael ya?ha ha ha..)
Beberapa tipsnya sangat membantu, bahkan alat gambarnyapun mudah dicari di bumi Indonesia ini ( yang biasanya miskin perlengkapan gambar, not to mention muwahalllnya...Mbok ya pemerintah menghapus pajak impornya, kan bukan barang mewah..*meratap sambil duduk mencuci baju di pinggir kali*)
Hari ini saya menemukan site dari Brian Duey. Bukan hanya karyanya yang mempesona, tapi juga masih muda dan cute *gaya tersipu sipu dimulai*
Melihat karyanya pada tahun 2004 yang bahkan tidak 3 dimensi bertransformasi menjadi sangat realistik saat ini memberi saya semangat untuk terus berlatih. Saya pasti bisa.PASTI.
Kemiripan dari beberapa seniman diatas adalah penampilannya rapi (tidak seperti Mbah Surip look-a-like), bahkan ruang kerjanya sangat sederhana dan rapi. I Love it.
Saya merasa seperti anak kecil berbaju lebah di video klip Blind Melon yang akhirnya menemukan lapangan penuh lebah setelah sebelumnya berjalan dengan diiringi pandangan aneh dari manusia yang tidak berbaju lebah (aduh ketahuan anak angkatan jadul banget, ha ha ha...Alternative Rocks Yeahhhh).
Kamis, 23 Juli 2009
mentalitas pamer

Setelah kemarin saya mempost beberapa karya sketsa di facebook, ternyata komentar dari handai taulan sangat menggembirakan. Untungnya koneksi komputer di lantai bawah ajrut-ajrutan. Kenapa dikatakan untung?
Karena dalam ketidaksabaran itu saya bisa menyadari bahwa telah muncul kesombongan dari dalam diri untuk memamerkan 'kelebihan' saya. Padahal jika melihat karya beberapa master pencil drawing yang begitu detail, saya sih ngga ada apa-apanya..hu hu hu...takabur sekali.
Belakangan ini saya sedang mempelajari perihal mentalitas pamer. Keterikatan hati untuk terlihat 'lebih hebat dari manusia lain' ini mengaburkan tujuan berkarya, yang sebelumnya adalah murni kegiatan yang menggembirakan dan memuaskan hati menjadi 'cara untuk ngetop dan kaya'.
Saya bersyukur telah dikenalkan pada Falun Dafa oleh sahabat saya, walaupun saya baru mempelajarinya beberapa saat (sudah dikenalkan bertahun tahun lalu, tetapi baru tergugah untuk belajar sekarang..thanks for not givin' up on me :)), tetapi ajaran pada buku Zhuan Falun semakin dibaca semakin memberikan kesadaran untuk bersikap sadar sehari-hari. Sederhana, tapi memang tidak semudah itu melawan pengaruh keinginan hati di lautan manusia yang penuh intrik dan nafsu (kok kedengerannya ngeri ya?ha ha ha...ya begitulah...)
Saya tidak akan menceritakan lebih jauh tentang Falun, karena pemahaman saya yang masih cupu, kalau pembaca memiliki ikatan perjodohan dengannya niscaya akan menemukan jalan untuk mempelajarinya. Falun Dafa is Good .
Rabu, 22 Juli 2009
menggambar

Sedari kecil, salah satu minat terbesar saya adalah menggambar.
Dulu saya meniru kakak saya yang suka menggambar kartun di buku tulisnya, lalu saya mulai menggambar tokoh kartun, dan kegiatan yang paling seru pada masa itu adalah tidur- tiduran di lantai sambil menggambar hal menarik yang muncul di TV ( kemudian kebiasaan ini berkurang karena mengakibatkan gejala paru- paru basah ..hu hu hu hu )
Hal lain yang membuat saya 'trauma' pada menggambar adalah ketika saya masuk SMP, seorang guru seni rupa 'menuduh' gambar saya sebagai bukan karya original. Dengan pemikiran jika membuat karya yang bagus hanya akan membawa masalah, maka saya mulai 'alergi' menggambar.
Kemudian setamat SMA, karena ingin melanjutkan ke sekolah desain, saya kembali belajar menggambar, lengkap dengan teori perspektif dan sketsa yang sistematis. Fase ini mengingatkan betapa menyenangkannya hal ini, memperhatikan sesuatu yang kemudian kita ceritakan kembali melalui gambaran.
Pak Andi adalah guru gambar favorit saya. Dia berpenampilan rapi dengan kemeja dan celana kain, tidak seperti gambaran seniman yang berusaha keras bergaya a la seniman. Setumpuk map berisi gambar dan tas kerjanya yang berbahan kulit hitam diikat di jok sepeda motor Honda Astrea 800nya. Sederhana sekali. Senyumnya lebar dan matanya berseri- seri, dapat dilihat jika dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai guru.
Karyanya yang hanya menggunakan pensil tetapi sangat realistik dan detail, mengajarkan bahwa pengamatan yang teliti dan kesabaran adalah kunci pembuatan karya yang memuaskan.
Belakangan ini dukungan dari teman-teman dekat untuk saya menekuni bidang gambar semakin besar. Keyakinan mereka membuat saya bersemangat kembali.
Memang jika melihat beberapa karya seniman lain di web, teknik arsir saya masih jauh dari realistik, seperti karya Mike Sibley yang sangat hueeebaaaatttttt, tapi saya bisa belajar dan pasti bisa bisa bisaaaaaaa!
Diatas adalah sketsa saya akan Anand Khrisna, salah seorang tokoh spiritual yang saya hormati.
Langganan:
Postingan (Atom)


