Tadi malam diajak oleh sahabat saya yang mendapatkan voucher makan, kami pergi ke sebuah restoran baru di kawasan Kuta. Letaknya di kawasan pertokoan yang masih baru, bahkan belum jadi sepenuhnya, instead of pengunjung, mayoritas orang yang hang out disana adalah kuli bangunan ( tidak bisa dikatakan bekerja karena mereka terlihat duduk-duduk merokok sambil menggoda cewe' yang lewat....ck ck ck....).
Restorannya sendiri, walaupun cukup terisi pengunjung tapi menurut reportase, beberapa bagian belum difinishing. Saya tidak akan menyebutkan nama restoran bersangkutan karena belajar dari kasus Prita, hiiiiiiy....
ogah ah masuk penjara gara-gara ngerumpi...
Melihat voucher berupa dim sum dan mi ayam, kami berasumsi bahwa ini adalah restoran cina a la tempat arisan keluarga besar yang berisi a'i - a'i berisik (judgemental habis), tapi kenyataannya ternyata lebih ke restoran cepat saji ( yang sayangnya tidak cukup cepat menyajikan makanannya----> mulai keliatan alasan tidak mencantumkan nama restoran,ha ha ha ha....)
Untungnya teh tarik pesanan saya rasanya boleh lah (mulai pulih pasca memesan teh tarik dengan rasa 'ajaib' beberapa waktu lalu), sehingga kegiatan menunggu dengan penuh ketidakpastian akan pesanan kami agak terobati.
Sekitar 20 menit pesanan datang (setelah dari lantai dua kami putus asa berharap nampan yang dibawa pelayan akan mampir ke meja kami...), makanannya secara keseluruhan bisa dibilang cukup enak, walaupun agak asin, tapi ada sesuatu yang kurang
Kami mulai menduga-duga (yang jelas bukan garam dong?ha ha ha..), hingga sampai ke kemungkinan karena masakannya tidak fresh dimasak sebelum disajikan. Lalu kami membandingkan dengan restoran cepat saji serupa tapi tak sama yang menggembar gemborkan harga anak kos-nya, memang rasanya cukup tapi karena tidak ada asap-asap mengepul khas baru matang, citarasanya jadi melempem.
Kesimpulan saya ketika pulang adalah ternyata kenyang tapi kurang puas lebih menyedihkan daripada puas tapi kurang kenyang. Uang bisa membeli makanan, tapi bukan kepuasan..
Jumat, 31 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar