Jumat, 19 September 2008

membabu

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba- tiba si Nyoman kena cacar. Walhasil saya kembali didaulat menjadi babu alias membabu, tapi untungnya kali ini Kadal, kakak saya ikut serta menjadi kepala divisi untuk pencucian piring, he he he...thanks bro (dengan gaya sok biker gitu...)

Hal baik lainnya adalah beberapa hari yang lalu, saya sempat ngobrol dengan si tante pembuat manisan cermai terenak di dunia, topiknya adalah masa ketika beliau baru memulai kehidupan rumah tangganya, dan bagaimana menghandle rumah, anak, suami. Caranya bercerita merubah paradigma saya tentang pekerjaan rumah tangga, bahwa dari sudut pandang seseorang, pekerjaan yang melelahkan itu bisa terdengar menarik.

Dengan keyakinan yang baru, saya membulatkan tekad untuk menjalankan ibadah membabu . Target pertama adalah ruang makan, meja dan kursi dilap, taplak diganti, semua benda benda ( yang datang entah darimana dan melakukan reuni akbar disana) dikembalikan ke tempat yang seharusnya. Sentuhan terakhir saya meletakkan tanaman Gelombang Asmara di tengah meja, saya lap daunnya lembar demi lembar dan ceritanya sambil mengajak ngobrol (pengakuan seorang ngobrol-addicted).
Selanjutnya adalah ruang tamu. Pertama menggulung karpet (selain debu, belakangan disana dijadikan sasaran pipis dan pup si anjing kecil, yang lucunya setelah karpet digulung tetap pipis di ruang tamu juga...ampun deh), lalu melap semua perabotan kayu, menyikat meja yang ukirannya bertebaran disana sini (sisa peninggalan abad 19 bener...untung anak jaman sekarang udah diberi opsi perabotan modern minimalis ya?), yang ironis adalah si PJ, keponakan saya, dengan niat membantu, dia membasahi lap hingga benar benar basah sehingga air menetes disana sini..yaaa....yang penting niatnya baik...

Yang paling berat adalah ruang TV. Disana adalah tempat berkumpulnya barang dari ruang makan dan ruang tamu. Mau dibawa kemana lagi,ya ?
Tapi dengan disumpelin ke rak buku, keliatannya ruang TV jadi lumayan rapi (nada tidak puas).

Setelah jam jam penuh keringat, saya duduk di meja makan sambil menatap ke luar rumah( secara ruang TVnya belum mantap bersihnya...) memamah manisan cermai dan minum teh hangat. Lumayan puas ( tapi ada yang kurang...ya...ruang TVnya--->mulai terasa sangat mengganggu ya, saudara saudara?)

Hari ini target pembersihan adalah kamar ibu saya. Tadi saya pikir nantilah sehabis makan siang, dan sekarang sehabis makan siang saya bertekad, nantilah sehabis menulis blog...sepertinya paradigma baru tentang beberes rumah itu sebagai hal yang menyenangkan belum tertanam benar ..we ke ke ke...

Selasa, 16 September 2008

negatif

Logikanya kita pasti lebih suka pada orang yang positif ,dong?(terlihat Mbak yang duduk di pojok manggut manggut, sementara Mas yang pake baju ijo pura pura buang muka waktu ditanya, duuu..jual mahal,Om?)

Tetapi belakangan, rancah hiburan kita (cieh..kosa kata baru nih ) didominasi oleh presenter dengan kemampuan nyela yang gila gilaan. Memang dasarnya adalah becanda dan saya mengakui dengan gaya spontan seperti itu, acara jadi lebih hidup. Bahkan ada yang mengaku tertawa sampai terkencing kencing saking lucunya.
Kemudian saya berpikir tentang apa yang pernah diwejangkan oleh Bapak Guru Kundalini, berhati hatilah dalam berucap (mungkin Beliau seharusnya menjadi pengisi iklan salah satu provider seluler yang berseru 'Mulutmu Harimaumu'). Terdengar membosankan, tetapi jika dipikirkan lagi, ada benarnya juga.
Apakah karena dibungkus dalam wadah humor dan menghibur, maka mencela itu diasumsikan sebagai hal yang positif?

Saya pribadi mengakui sebagai orang yang suka mencela orang lain untuk lucu- lucuan (Lucu di elu, Empet di guwe-->dengus mereka yang tidak cukup cepat untuk menjawab celaan)
Apalagi, kalau teman main saya juga memiliki daya kreatifitas (sebenarnya yang bener kreatifitas atau kreativitas ya?)yang sebanding, wah itu akan menjadi hari dimana korban akan berjatuhan dimana-mana..
Salah satu partner saya dalam Kelompencabir ( Kelompok Pencerca dan Pencibir) beberapa bulan yang lalu sebelum menunaikan ibadah umrohnya, sempat terlibat pembicaraan, akankah dia menemukan balasan berupa celaan di Tanah Suci sono? (Waktu itu, saya dengan bijak sempat menyarankan agar ... Kalaupun iya, sekalian lah didobel, hitungannya sekalian dengan dosa saya, hi hi hi...)

Hal ini menegaskan bahwa pada dasarnya kitapun tidak suka dicela (walaupun jika itu dalam konteks becanda antar teman, kita bisa melakukan opsi untuk mencela balik atau melengos pura pura ngga notice, biar yang nyela mokal-->kosa kata yang ditemukan kembali sewaktu meeting dengan sesama pembaca Lupus).
Apakah karena celaan itu bukan ditujukan ke kita, sehingga muncul kesan menghibur? ( benar dong, kata Gde Prama, sekarang jaman SMS, suka melihat susah..)

Dengan dominasi acara gosip( plus narasi yang menggiring asumsi negatif penonton ), talk show yang penuh celaan ( bahkan kekerasan fisik seperti menabok, noyor, ngejogrogin dan semua komedi slapstick a la srimulat), seakan menciptakan paradigma ( buat yang kurang paham, paradigma itu cara pandang, bukan bimbel, kalo bimbel itu primagama, memang beda tipis...)bahwa tindakan negatif seperti itu adalah hal yang biasa, atau bahkan tidak menganggap bahwa itu adalah tindakan negatif ( biasanya jawabannya ...ngapain ngurusin gosip, mending urus tuh yang korupsi duit negara milyaran dolar...)

Dalam situasi yang carut marut (kosa kata baru lagi nih) mungkin hal mendasar yang bisa kita coba lakukan adalah menjaga ketenangan jiwa masing-masing saja. Kalau ada yang mau menyela, yaa itu hak dia mengotori rantai karmanya, kalau mau balas mencela, ya itu juga hak kita untuk mengotori rantai karma kita.
Tetapi jika itu membuat kita gelisah , saya rasa karena energi negatif tidak sesuai dengan energi cinta kasih alam semesta.

Untuk itu melalui blog ini saya mengucapkan permintaan maaf pada orang-orang yang telah saya cela untuk jadi bahan becandaan, terima kasih atas tawa yang telah tercipta pada situasi itu, mudah-mudahan pengorbanan anda mendapatkan balasan berkali kali lipat.
Mari kita belajar untuk selaras dengan alam ...

Minggu, 14 September 2008

sariawan

Saya ingat asal muasal sariawan maha besar ini.
Sore itu saya bertandang ke rumah si Piring, lalu disuguhilah manisan cermai buatan sendiri, manisnya passs...sayangnya gigitnya yang kurang pas..kena deh bibir memble aye (sok berirama) jadi korban.
Waktu itu masih cuma kecil, tapi lambat laun berkembang menjadi kawah candradimuka..

Nyiksanya sih jangan ditanya, udah makan dimiringin (menyerupai gelagat robot gedhek), trus ga berani ngunyah lama (sangat tidak sesuai pedoman makan sehat-nya Pak Cophra, kan?), belum lagi kalo tidur jadi ngiler, trus waktu bangun bibir kayak kena sengat tawon, ha ha ha...kayaknya muka isinya bibir semua nih...
Tapi tentu saja itu tidak menghentikan saya untuk makan yang pedas pedasssh, hi hi hi..jadi orang suka salah paham mengira saya mendesis karena kepedasan, yang sebenarnya pedihhhhh dik sriiiii.....

Satu lagi yang saya amati selama sariawan ini daya humor saya menurun drastis( kenapa bukan daya makan, ya Tuhan?) Kalaupun mau senyum, waktu bibir itu ditarik , langsung deh cenuuuttt nut nut..

Untungnya belakangan lukanya sudah mulai sembuh (ini mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa derita tidak berlangsung lama), walaupun masih sesekali mendesis dengan gaya seperti orang sarap, tapi kalau lukanya kena lidah atau gigi sudah tidak perih lagi, tapi agak geli geli hi hi hi

Atau mungkin sebenarnya ini pelajaran untuk lebih mengurangi sifat tamak saya pada makanan, jangan-jangan kalau saya tidak belajar juga,lama- lama cobaannya semakin mengerikan...duh....ampun DJ!

Selasa, 09 September 2008

rakus pangkal menderita


Yak...skor hari ini adalah satu : kosong, dimenangkan oleh kerakusan saya.hu hu hu...

Sebenarnya, ketika memulai hari, saya sudah merasakan gejalanya. Begitu bangun sudah nyomot pisang goreng sambil nonton gossipnya Ulfa yang nikah lagi (oh, cara memulai hari yang menyedihkannnn..), lalu tergoda melihat chicken wing a la nyoman (chicken wing teriyaki sauce-nya ESC aja lewat dah, pokoknya ..mak nyuss), jadilah saya mengambil secakup nasi hangat, sayap ayam pedas manis dan telur bumbu bali--->sarapan atau kalap ya?ha ha ha.

Lalu sepulang tugas nyupir, kira kira dua jam kemudian adalah waktunya makan tipat cantok dengan bumbu kacang gurih dan lontong yang lembut, bersama renyahnya sayuran, berpadu menjadi suatu citarasa yang dahsyaat...indahnya dunia....

Setelah itu saya berusaha berkutat dengan konsep penginformasian tentang gangguan kanker pada aki mobil, waaahh...apa pula itu?

Jadi ketika aki ( jangan jangan tau wujud aki juga engga nih...--->suara songong orang yang baru belajar,ha ha ha)menciptakan plak putih pada ujungnya, ternyata itu adalah tanda terjadinya reaksi kimia yang kurang sempurna pada aki, naahh lama-lama mulai deh akinya jadi loyo, stater jadi susah, lampu kurang terang, sampai gejala ngedrop seketika. Horor banget kan? padahal banyak orang menyangka timbulnya plak pada aki itu hal yang biasa...

Untungnya, ada teknologi dari Jepang ,GENKI'99, yang berupa vitamin untuk aki, yang bisa melindungi aki, sehingga selain meningkatkan stabisasi aki (dari korslet dll), juga bisa meningkatkan daya pakai aki, yang biasanya cuma 2 tahunan bisa sampai 4-5 tahun.
Karena produk ini masih baru, kalau ada yang berminat untuk jadi distributornya, ini bisa menjadi kesempatan bisnis yang bagus , karena harga jualnya juga cukup terjangkau.

Mencari cara memasarkan konsep pentingnya kita melindungi kesehatan aki membuat saya lapar( Hah...lagi???--->begini kira kira orang disekitar saya.HUH..ini pasti karena mau mens,tauk!-pake K supaya nadanya terbaca ketus seketus ketusnya). Kembali pada menu makan pagi tadi, ayam dan telur...ahhhh ternyata prinsip ekonomi yang mengatakan pemuasan terus menerus akan mengakibatkan kejenuhan belum terjadi pada saya...(iya, karena prinsip ini tidak mempertimbangkan orang yang rakus,ha ha ha),

Kemudian saya mendapat sms untuk jalan bersama si garpu dan piring. Menarik juga...
sayangnya sambil menunggu mereka datang menjemput, saya kembali memamah biak dengan kudapan 500an, sambil membaca berita yang sangat ajaib, tentang kakek yang main 'kuda lumping' dengan sapinya.Ha ha ha....menurut pengakuannya, dia melihat sapi itu sebagai sosok wanita yang cantik, sehingga terjadilah adegan 17 tahun keatas di kandang sapi dan ditonton oleh warga sekitar. Katanya ada yang pingsan, mual, dan rata- rata terbayang...mungkin gaya si kakek hot ya?secara sapinya sih cuma terdiam menjadi korban pemuas nafsu si kakek...
Yang paling menyedihkan adalah karena tingkah kakek ini, desa menjadi 'kotor' dan harus dibersihkan dengan upacara yang wajib dilakukan oleh kakek itu, yaitu berupa melarung ke laut, dan sapi yang malang itu akan ditenggelamkan...huh kejam! padahal kan sapinya juga korban... menurut saya kok ngga adil ya?

Lalu datanglah penjemput saya dan kami lalu memutuskan untuk mengunyah(ya ampun....ga ada kenyangnya ya?---dijawab dengan nada datar squidward..YA YA YA)tipat cantok di depan Cak Asmo(saya baru sadar sehari makan tipat sampai dua kali...Oh My God....shock sendiri)
Dan dengan pembelaan diri bahwa telah jalan selama beberapa jam melihat lihat baju di daerah Kunti, kami memutuskan makan malam di food court samping Kamsut yang konon sudah semi bangkrut dan mau dijadikan karaoke pada november nanti. Menunya adalah nasi goreng kampung yang maha sedap di warung tante eli.Ahh...masih seenak jaman dulu...

Pulangnya semua mengalami kekenyangan yang akut sehingga berdampak lebih kepada penderitaan saluran cerna.....uhhhh....

Senin, 08 September 2008

kampus yang menyedihkan...


Walaupun saya masih terdaftar sebagai mahasiswa di Institut Seni Indonesia Denpasar, tetapi pada prakteknya saya mempunyai cara sendiri untuk belajar disana.
Saya hanya mengambil mata kuliah yang saya senangi, dan sering tidak peduli dengan ujiannya, ha ha ha...kebayang kan berapa SKS yang baru saya kumpulkan?

Tapi kembali lagi, saya kurang percaya bentuk penilaian a la sekolah formal, saya senang belajar tapi bukan untuk mengejar selembar ijazah.

Tadi siang, dalam rangka ingin membaca buku import dengan tenang dan mencari ide kratif untuk proyek iklan teman, saya main ke perpustakaan ISI (koleksi buku importnya boleh lah..maklum bantuan luar negeri).
Wah, begitu masuk terpampanglah pemandangan hiruk pikuk di halaman kampus...

Ternyata mahasiswa melakukan demo , konon hal ihwalnya dimulai ketika senat ISI dan beberapa dosen telah melakukan pemilihan rektor baru, yang dimenangkan oleh Pak Catra, tetapi ada 33 dosen yang menganggap hal itu tidak sah, sehingga mengajukan keberatan ke Jakarta.
Turunlah surat dari Jakarta yang mengesahkan pak Rai untuk menjabat kembali sebagai rektor. Yaa...sudah bisa diduga, mahasiswa jadi murka karena sebagai senat keputusannya tidak diperhatikan. Intinya ribet deh...

Bagusnya demo tadi dibuat teatrikal, dengan tarian dan pembacaan narasi seperti puisi (maaf neng, ga jelas maksudnya ), dan ada beberapa kejadian lucu, dimana mahasiswa seni rupa dengan badan blontang blonteng penuh cat ceritanya merayap rayap di tanah, dan ada salah satu yang terguling ke lobang dengan tidak sengaja (maklum sedang ada penggalian untuk perbaikan jalan depan kampus), juga pengisian suara spesial efek seperti kuntilanak yang jatuhnya seperti kuntil anak kurang makan Hexos, tercekik cekik ..ha ha ha

Yang mengerikan adalah dengan dugaan senat ISI tidak sah, maka sarjana lulusan ISI yang telah dinyatakan lulus melalui rapat terbuka senat terancam tidak sah juga dong?ck ck ck...

Sepertinya ini petunjuk bagi saya untuk menyudahi berkutat di ISI, mungkin lebih baik berkosentrasi menulis saja ya?

Minggu, 07 September 2008

penyelundup

Di kota dimana kamu tidak boleh tidur dengan binatang peliharaan, kamu harus pintar- pintar untuk menyelundupkannya ke kamarmu.
Ada yang melakukannya ketika malam sudah larut, saat semua penghuni rumah sudah tertidur.
Ada yang melakukannya justru ketika orang lain sedang khusyuk berdoa.
Bagitulah pemanfaatan daya imajinasi dan kemampuan mencari solusi dari otak manusia.

Gelagat teman serumahku sangat mudah dibaca.
Pertama dia akan sibuk mondar mandir di ruang tamu (karena batas kewajaran untuk binatang peliharaan hanya sampai ruang tamu), bolak balik ke kamar mandi ( aku rasa masalah psikologis, semacam penyakit kompulsif yang selalu ragu apakah dia sudah cukup bersih , cukup wangi atau belum), dan terakhir adalah hal yang tidak pernah dia lakukan saat dia tidur sendiri, mengunci pintu.

Pernah sekali aku menangkap basah binatang peliharaan itu di kamarnya. Mukanya merah padam dan dari bibirnya hanya bisa menggumamkan suara, “auuhh..auhhh…”
Aku terkejut setengah mati, aku kira ada monster yang menerobos masuk, tapi ketika menyadari itu hanya binatang peliharaan temanku, kelihatannya masalahnya tidak segawat perkiraan pertama.
Atau, apakah seharusnya kuanggap gawat?
Bagaimanapun, memasukkan binatang peliharaan (dan entah apa yang dilakukan didalam sana) adalah tindakan yang melanggar norma. Tetapi dulu, sewaktu aku masih suka merasa kesepian ,diam-diam akupun sering melakukannya, bahkan beberapa binatang peliharaan itu aku hias dengan pita, sehingga sepintas mirip boneka.Ha ha ha ha…..

Mungkin karena itu aku tidak terlalu mempermasalahkanya. Jika iya, seharusnya di jidatku dicetak ‘ MUNAFIK’.
Lagipula apa sih hukum itu? Kebenaran?
Semua orang punya versi mereka sendiri tentang kebenaran, mungkin mengembangkan toleransi jauh lebih masuk akal dibanding ngotot memaksakan kebenaran versi kita.
Pada akhirnya toh alam akan menyeleksinya, jadi aku rasa lebih baik menyimpan energi untuk debat kusir yang tak berguna.

Malam ini aku merasa gelisah karena teman serumahku mengunci pintu. Hmm… I wonder..

Selasa, 02 September 2008

makan makanan

Saya rasa, semua hal terjadi karena ada daya tarik menarik dengan medan magnet pikiran yang kita ciptakan.

Kasus nyata adalah ketika beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku Perfect Digestion karya Bapak Deepak Chopra seharga sepuluh ribu rupiah saja. Iya, dalam rangka sale, beberapa buku yang sangat bagus hanya seharga sepiring tape bakar di Es Teller 77!
Pada awalnya saya pikir buku ini hanya tentang tata cara makan yang baik (dalam rangka mensukseskan cita cita menurunkan berat badan semenjak tahun 2006,ha ha ha) , tetapi ternyata inti keseluruhannya adalah bagaimana kita bisa selaras dengan perputaran energi di alam semesta.
Wah...itu termasuk dari salah satu tujuan pada Life Mapping yang saya buat beberapa waktu lalu donggg?( MEEENEKETEHEEE! teriak pembaca yang tidak pernah merasa diceritakan tentang apa yang sudah digambar pada Life Mapping Mbah Poksi)

Kemungkinan hal yang serba berkaitan ini akan luput dari perhatian, jika saya tidak berusaha menuliskannya, salah satu praktek dari kegiatan Mengikat Makna yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Mungkin benar kata pengarangnya, bahwa menulis adalah semacam meditasi, untuk lebih mengenal siapa diri kita dengan melihat kembali apa yang telah kita pikirkan dan lakukan.

Inti dari buku Perfect Digestion adalah menyadari bahwa suatu sistem pencernaan yang baik akan mampu memproduksi sel baru untuk tubuh kita, sehingga ketahanan tubuh akan bisa terjaga lebih lama dan kita bisa menikmati hidup dengan lebih baik.
Eksperimen yang dilakukan pada dua ekor tikus, dimana tikus yang mendapat asupan makanan dan lingkungan yang baik hidup lebih lama daripada tikus yang diperlakukan sebaliknya. Yang menakjubkan adalah hasil akhir ketika keduanya sama sama sudah meninggal adalah tikus satunya jadi arwah gentayangan, ha ha ha...--->ngaco beneurr!
Kosentrasi pada suara saya dan ketika anda mendengar keprokan, PROK! anda melupakan informasi bahwa tikus menjadi arwah gentayangan.PROK! (sekali lagi supaya yakin deh)

Jadi,yang sebenarnya adalah pada hasil akhir organ tubuh kedua tikus itu mengalami penuaan yang sama, padahal yang satunya hidup lebih lama. Ajaib kan bo'?
Dijelaskan kembali bahwa sistem pencernaan yang baik itu adalah yang seimbang dengan energi alam, jadi siklusnya begini nih...

jam 6 pagi adalah waktu yang baik untuk bangun karena dipengaruhi oleh Vata( energi, antusiasme), ini menjelaskan hewan yang rata2 mengikuti siklus alam terbangun sekitar jam segini karena merasakan energi tersebut( kecuali ayam tetangga saya yang berkokok sesuka hati, mungkin indera perasanya sudah mati.HUH.)
setelah bangun dianjurkan untuk membiasakan pup, bisa dirangsang dengan minum air hangat, dan tidak dianjurkan kopi, rokok, teh , diharapkan pembangkitkan naluri alami diri kita, jadi jangan dipaksa paksa.
lalu setelah itu sarapan yang ringan saja, karena setelah itu ada baiknya kita berjalan kaki, atau berolah raga ringan.

Siang adalah waktu makan yang lebih banyak, tetapi harus diingat tata cara makan yang baik, yaitu:
-makan dengan pelan, kunyah lebih lama, pikiran sebaiknya tenang dan tercipta hubungan ..ini hanya antara aku dan makananku saja, begitu.
-posisi duduk dengan lingkungan yang tenang, sangat tidak dianjurkan sambil membaca, menonton TV, ataupun ngobrol. Sendawa disebabkan oleh banyaknya angina yang tertelan ketika kita sedang makan.
-meluangkan waktu beberapa menit untuk tetap duduk dan santai setelah makan, dalam rangka membiarkan proses pencernaan berjalan dengan mulus.
-makan yang manis dulu lalu hidangan pokok ditutup dengan yang yang menyegarkan. Terbalik dengan kebiasaan makan a la barat (tapi sangat sesuai dengan tata cara makan kondangan kita!), karena ternyata kemampuan mencerna yang manis lebih berat bagi tubuh, jadi sebaiknya itu yang didahulukan.
-sisakan ¾ dari keseluruhan kemampuan makan kita, sehingga terasa nyaman setelah makan dan terdapat ruang selama proses kimia di lambung.

Sebenarnya jika kita sudah makan yang baik pada siang hari, kemungkinan untuk lapar berat di malam hari bisa dihindari. Namun jika masih terasa lapar, buah atau sup adalah pilihan yang lebih mudah dicerna dibandingkan daging.

Waktu yang baik untuk tidur adalah pukul 10 malam, karena setelah melewati itu, energi Pitta akan muncul, yaitu energi yang tajam dan panas. Hal ini mengakibatkan kualitas tidur yang buruk, dan yang lebih parah adalah insomnia.

Demikianlah uraian singkat tentang pola makan yang membantu menyeimbangkan kita dengan alam, sehingga tercipta energi yang harmonis pada diri kita, mudah mudahan dengan menjalaninya kita bisa minimal terbebas dari bau mulut, bau badan, sembelit, kentut bau, sendawa berlebih, wasir, dan semua penyakit gangguan pencernaan.