Minggu, 31 Agustus 2008

Dari Karangasem

Betapa leganya ketika rentetan acara Ngaben massal berakhir(upacara pelepasan pada arwah untuk memasuki awal perjalan baru disana.dimana?disana tuh jauh deh-->konon sih begitu, tapi secara saya sudah lupa kenangan meninggal di kehidupan sebelumnya, jadi maap ya sodara sodara kalau kurang autentik).

Setelah selama berbulan bulan selalu berakhir pekan jauh dari hingar bingar hiburan malam, (kembali ke bentuk hiburan yang paling sederhana, yaitu obrolan antara manusia),mulai mengerti silsilah keluarga besar( dan bumbu gossip serta intrik intrik yang memikat ,ha ha ha), semakin terkontaminasi dengan logat Bali dengan nada melengking di akhir kata (kualat karena sudah mentertawainya), memperhatikan mereka yang terlihat semakin tua dan mereka yang baru datang ke dalam keluarga, kulit gosong belang ( dan beberapa ibu ibu yang punya motif belang sesuai dengan kain brokat yang dipakai,ha ha ha...karya seni berjalan) dan banyak hal yang sewaktu dijalani tak lepas oleh ratapan kelelahan (seperti pada hari terakhir,ketika pagi buta kami semua melepaskan semua atribut upacara ke laut,saking lapar dan mengantuknya, saya berhalusinasi mencium bau popmi yang diseduh..aduh..sangat menggoda,ternyata....memang ada tukang popmi yang sekonyong konyong berjualan karena melihat rombongan kami!ha ha ha jam 3 pagi booo!). Begitulah semua ketika dikenang kembali sangat menggelikan.
Itulah keluarga saya. Orang Karangasem.

Dulu saya merasa jauh dari akar saya, dan memiliki kecenderungan berpikir negatif tentang keluarga besar saya. Selain karena saya sendiri adalah anak yang selalu memberontak, melakukan aksi yang membuat mereka geleng geleng (yak..kanan kanan kiri kiri), tapi mungkin itu adalah masa saya mengumbar ego (dengan tema Emang Guwe Pikirin) yang lucunya, beberapa kali saya mendapat komentar sebagai penampilan paling spektakuler saya,ha ha ha ha....mungkin gaya bandel memang lebih menjual,ya?
Tapi saya merasa sudah cukup dengan gaya 'LIAT DONG, GUWE KAN BEDA!', sekarang saya lebih suka dengan konsep 'TERNYATA LU BEDA, YA?', dan mungkin beberapa tahun kedepan saya sudah melompat ke pemikiran 'AH...SAYA DAN KAMU ADALAH SAMA' ? bisa saja toh?

Kini ketika saya meluangkan lebih banyak waktu bersama mereka, lebih belajar untuk mendengarkan dari posisi mereka, bekerja bersama mereka, mulai tumbuh benih perasaan bahwa saya adalah bagian dari mereka. Kami tidak jauh berbeda, mungkin lingkungan banyak mempengaruhi perbedaan kebiasaan kami, tapi yang jelas adalah keinginan kami untuk melengkapi rangkaian upacara untuk keluarga yang telah meninggal menyatukan kami dalam proses pengerjaan karya Ngaben ini.

Ini menyadarkan bahwa saya sudah terlalu lama mengidap penyakit antisosial, bagi saya, paling pol itu adalah percakapan antara dua individu saja. Langkah awal memperbaiki diri secara tidak langsung adalah ketika saya bergabung pada pementasan Cukup Cukup (terima kasih banyak Ewe!), energi yang ditimbulkan dari kolaborasi beberapa orang sangatlah menarik!

Mungkin kuncinya adalah melihat kembali dengan penuh rasa syukur atas terselesaikannya proyek itu.aaahhh......popmi....ha ha ha ha...

Selasa, 26 Agustus 2008

Life Mapping...dan beberapa cerita tambahan

Setelah cukup lama tak bersua, akhirnya semalam saya hangout bersama sahabat saya si Jekiy aka resepsionis yang suka mengaku sebagai dokter, dan juga tak lupa bersama si Koncrenk, yang bisa dikategorikan sebagai adik yang kecerewetannya sangat mengangeni,ha ha ha...

Pembicaraan tadi malam adalah tentang buku yang baru ini saya beli, berjudul Life Mapping oleh Brian Mayne & Sangeeta Mayne. Ada tiga prinsip dasar dari sistem ini.

Pertama adalah mengetahui siapa diri kita dan apa tujuan dalam hidup kita.

Banyak dari kita merasa terlalu sibuk untuk meluangkan waktu dengan diri sendiri, terlalu takut untuk sendirian, dengan paradigma bahwa sendiri identik dengan kesepian dan itu sangat menyedihkan. Saya sendiri memerlukan waktu cukup lama untuk merubah cara pandang saya tentang kesendirian, waktu saya masih ABG dulu (sekitar tahun 90'an gitu ya, jaman baju sekolah dua size lebih gede trus agak dikeluarin dikit...) saya memiliki 'Sindrom Malam Minggu'.
Jadi, setiap malam minggu,saat kita bisa begadang sesuka hati karena tidak khawatir harus bangun pagi untuk sekolah ( saya benar benar terganggu dengan rutinitas mendengarkan ocehan guru di pagi hari sementara usaha untuk mengumpulkan nyawa baru berhasil dilakukan mendekati waktu pulang sekolah..) ada perasaan sepi yang teramat sangat, mengingat semua teman saya asik dengan pacarnya, sedangkan saya merasa terlalu 'berbeda' untuk mencoba berpacaran pada usia itu. Aneh. Saya selalu merasa menjadi orang yang aneh diantara teman teman sebaya.
Hingga akhirnya, entah karena saya sudah punya pacar, atau karena setelah melewati masa wajib sekolah, malam minggu terasa biasa saja, atau karena masukan atas konsep baru tentang menikmati kesendirian, intinya sindrom itu menghilang. Senangnya.

Langkah Kedua adalah mendiskripsikan karakter yang kita inginkan demi terwujudnya keinginan kita.

Ini bahkan lebih sulit lagi, karena melakukan pengamatan atas diri sendiri melalui catatan harian ( dibaca sebagai rintangan = komitmen untuk mencatat). Lalu mendengarkan pendapat jujur orang lain tentang diri kita (senangnya punya teman yang pintar menganalisa, Pet..he he he thanks babe!), mendengarkan kelemahan diri bagaikan
dipaksa mendengar deritan kuku pada papan tulis. Nyeri. Tapi yah begitulah, itu kan pilihan hidup, saya sendiri yang ingin meningkatkan kualitas diri, bukan begitu?
Demikianlah dari hasil ini, kita bisa melihat kekurangan diri kita yang menghambat pencapaian tujuan hidup kita, lalu dari sini kita bisa menciptakan cara pandang yang baru tentang diri kita. Ribet?

Contohnya saya adalah orang yang percaya bahwa saya seorang pembosan.8 dari 10 teman saya membenarkan hal ini. Tapi dari kekurangan saya ini, saya melihat kelebihan (atau pembenaran?), bahwa memang benar adanya saya melompat belajar sana sini dan kelihatannya susah untuk fokus pada satu hal, tetapi kenapa harus fokus di satu hal?
Ada yang bilang supaya saya bisa memulai karir yang jelas di satu hal itu, ada yang bilang karena saya sudah terlalu tua untuk 'bermain main', ada banyak lagi pendapat yang intinya kurang setuju melihat cara saya menjalani hidup.Tentu mereka melakukan ini atas dasar kepedulian, karena sayang gituw lohhh..(dibaca dengan gaya berlebihan khas persenter binan yang menguasai pertelevisian kita)

Tapi ketika saya melihat garis mendasar dari permasalahan ini adalah di kurangnya komitmen saya menjalani semua yang saya ingin pelajari. Bukan masalah bosan. Bukan masalah berapa banyak hal yang saya ingin pelajari. Sehingga didorong oleh kekuatan tekad saya untuk belajar berkomitmen, kemarin oleh alam( sebenarnya oleh SPG Gramedia sih..) saya ditunjukkan sebuah buku tentang Mengikat Makna.(Apa!!ada penjelasan buku di dalam suatu penjelasan buku?!benar benar orang yang ribet...ck ck ck)
Buku ini mengajarkan kita untuk menulis kembali buku yang sudah kita baca (seperti yang sedang saya lakukan sekarang ini), sehingga selain melatih kebiasaan menulis, juga meningkatkan pemahaman kita akan buku tersebut. Satu langkah untuk melihat bahwa menulis adalah hal yang mudah dan membantu komitmen saya untuk menulis setiap hari.Wawwwwww dahsyaatt!!!!( kali ini meniru teriakan khas orang yang menjalani MLM)

Nah, yang ketiga dari Buku Life Mapping (tetap memasang muka serius dan pura pura tidak melihat pembaca yang meranggas kebosanan membaca blog yang maha panjang ini)
adalah menciptakan peta hidup kita.

Ini adalah bagian yang paling menyenangkan! (melihat tatapan tidak percaya pembaca yang sudah mual membaca sebegitu banyak penjelasan bercabang dari topik utama). Tapi sungguhan...di bagian ini kita mengaktifkan otak kiri dengan menulis dan memahami konsep yang kita inginkan untuk masa depan kita, dan menggambarkannya sesuai keinginan kita (aliran bebas,yang perlu mengerti hanya diri kita,sehingga bahkan bebek yang tergambar seperti kuda nil pun sah adanya)dalam rangka mengaktifkan otak kanan. Jadi mereka bisa bekerjasama mewujudkan impian kita. Keren ya?

Jadi begitulah resensi singkat tentang buku Life Mapping. Jika anda merasa tertarik mempelajarinya, saya sarankan untuk membeli di Gramedia karena dalam rangka hari Kemerdekaan mereka memberi diskon 50% (sementara saya pikir sudah membelinya dengan murah di Toga Mas yang diskonnya 15%!hu hu hu....).Mudah mudahan berguna dan membentuk diri yang lebih baik.Amiennnn.


-Blog ini ditulis dengan ditemani iringan lagu dari Southern All Stars-

Minggu, 24 Agustus 2008

kehidupan sosial yang lebih aktif

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk bertemu dengan teman lama saya, Ria, yang kebetulan sedang shooting film dokumenter bersama segerombolan kru dari California.

Ria itu sendiri adalah orang yang sangat menarik, pertama karena kecadelannya, bukan hanya untuk huruf R (seperti penganut faham cadel pada umumnya), tetapi juga beberapa huruf lainnya. Mendengarkan kata katanya terbukti melatih kemampuan otak kita pada suatu bentuk bahasa yang baru.Kami pertama kali bertemu, kalau tidak salah, ketika dia baru berumur 17, baru saja menyelesaikan high school, dan dalam keadaan menunggu visa untuk melanjutkan sekolahnya ke Amerika, sehingga dia memutuskan untuk belajar bahasa Perancis (terlihat tidak ada relevansinya, tetapi ya..begitulah).
Mungkin dia adalah salah satu remaja yang paling serius, fokus, tapi disisi lain juga sangat naif. Instead of membaca Cosmo Girl, dia tertarik pada Newsweek, sementara anak anak lain suka hang out di mall, nongkrong sana sini, dia malah kerja di kantor bokapnya. Dibanyak kesempatan ngobrol dengan teman-teman yang lain, dia adalah orang yang paling sering bertanya yang berujung gelengan kepala tanda takjub akan adanya sisa manusia yang lugu di abad ini.
Tapi semua itulah yang membuat kita semua menyayanginya, seperti adik kecil, dan oleh karenanya kami memanggil dia petite. Ria Petite.

Setelah hampir 5 tahun tidak bertemu, saya tidak melihat banyak perubahan darinya, dia tetap orang yang menyenangkan. Besertanya adalah Emily, yang karena pesawatnya ke Hong Kong mengalami penundaan (konon berhembus angin topan disana), akhirnya terjebak sehari lagi di Bali.
Bagi saya, dia adalah potongan dari diri saya. Seperti memiliki the other me dari belahan dunia yang lain. Banyak perasaan, reaksi, pemikiran saya yang kadang bagi orang lain susah untuk dimengerti, tapi bisa digambarkan secara tepat olehnya.
Saat ini dia mengerjakan tulisan tentang perilaku bipolar, dan proyek tentang tingkat kepuasan hidup manusia dari berbagai benua. Mengesankan.

Kami berkesempatan untuk datang ke Taman 65 untuk menonton Film dalam rentetan Q Film Festival. Sayangnya karena terlambat, saya hanya bisa menonton 1/4 dari keseluruhan film yang bercerita tentang perempuan. Well, tidak salah kalau diberi judul Perempuan Punya Cerita ya?
Taman 65 sendiri adalah komunitas yang berusaha mencerdaskan bangsa dengan diskusi tentang seni, budaya, bahkan sering mengangkat topik dari kaum minoritas.
Orang-orang disana sangat bersahaja, ramah dan terbuka. Keluguan ibu-ibu yang bertanya membuat suasana menjadi tambah hangat, jauh dari kesan kaku dan formal. Semua adalah teman disana. Semua bebas menjadi dirinya.

Saya sangat menikmati bertemu dengan orang- orang seperti mereka. Merasakan energi kreativitas dan antusias hidup menggerakkan sistem daur ulang energi pada diri saya.
Saya selalu suka dengan obrolan yang menyenangkan, tidak selalu harus yang pintar dan dalam, cukup terbuka dan mengalir saja.

Jumat, 08 Agustus 2008

sexy

Apakah deskripsi dari sexy itu?

Apakah pose menggoda - divisualisasikan dengan tatapan mata agak redup dan bibir terbuka sambil menengadah, yang sebenarnya jika tidak didukung dengan body language yang miring ke depan, gaya ini sangat rancu dengan muka korban gagal panen yang kelaparan.

Terdapat pula variasi 'fish pose', yaitu penegasan pada bibir yang agak manyun- biasanya dilakukan mereka yang di foto sewaktu melakukan aksi clubbin' atau liburan di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam ( kebayang kan kalo nunggu matahari terbit, pasti akan tercipta manyun yang terkantuk kantuk), hanya saja diperlukan ketepatan kadar pemonyongan bibir guna menghindari sindrom Mpok Atik wannabe (atau semua bibir hasil besotan tangan Haji Dede pada umumnya).

Atau sexy itu adalah efek yang ditimbulkan oleh kepercayaan diri individu tersebut?Teori dengan mudah dimentahkan dengan melihat contoh Omaswati si pemain lenong. Saya sangsi dengan semua aspek yg dimilikinya bisa membuat orang mengkategorikannya sejajar dengan perempuan dari keluarga azhari ( ha ha ha...sekarang yang terbayang adalah omas dengan baju yang buka depan belakang melakukan foto mesra dengan bule bule-ha ha ha)
Apakah faktor gigi begitu mempengaruhi kadar sexy seseorang? Tapi setau saya, beberapa model dari afrika seperti itu, tapi jatuhnya eksotis.
Jika ini karena masalah nyablak atau berlaku bodoh, Cameron Diaz walaupun sering berakting lucu dan naif- tolol, tapi tetap dikategorikan sexy (untuk beberapa orang).

Mungkin ini memang suaratan nasib si Omas, rejekinya datang dari celaan. Menurut saya, tidaklah mudah untuk bertahan dan tidak terkontaminasi atas kata kata orang lain yang berdampak kejatuhan mental kita, terutama secara alam bawah sadar.

Saya sendiri baru saja menobatkan salah satu teman saya sebagai orang yang sexy (bukan Ka, bukan kamu..lagian kan sudah banyak laki laki mupeng yang mengukuhkan posisimu sebagai penganut aliran Samantha-o-lic).

Pertama karena aksennya.
Aksen adalah hal yang unik, hal ini pernah saya bicarakan dengan salah satu sahabat saya di jakarta yang mengalami percampuran perasaan geli,aneh dan sedikit mual mendengar aksen Bali saya (yang setengah memaksa tetap menggunakan lu dan guwe stuff) , kembali, hal itu bagaikan pisau bermata dua -sejujurnya saya sendiri kurang paham dengan perumpamaan ini, apakah pisaunya berujung tajam dua duanya sehingga dipegang ditengah, seperti kunci T?- tetapi saya rasa aksen dan pengaturan nada suara yang tepat bisa membuat orang itu terdengar menarik.dan sexy.

Kedua karena tatapannya.
Mata yang tajam dan mengkonfrontasi seakan menunjukkan kekuatan karakternya -Tentu sangat berbeda dengan kasus om genit yang menatap tak berkedip, terutama ke arah area sensor- beberapa kali ketika kami saling memandang, dia bahkan tidak tersenyum, tapi pancarannya membuat saya merasa kami sedang berkomunikasi

Ketiga adalah karena gayanya menari.
Dia menari dengan jiwa. Ketika dia menari, dia menjadi tarian itu.Saya terlarut dalam tariannya.We all did.

Bentuk hubungan pertemanan kami adalah semacam saling mengamati. Jarang sekali berbicara panjang lebar seperti layaknya dengan teman yang lain. Tapi kebisuan itu indah sekali, membawa cara baru dalam mengenal orang. dan mengenangnya..

Kamis, 07 Agustus 2008

Mbah

Nenek dari Karangasem dipanggil Nini. Nenek dari Tabanan dipanggil Mbah.Ketika saya sudah besar, yang teringat hanyalah betapa Mbah yang begitu sayang pada saya. Bukan berarti Nini tidak sayang, tapi mungkin masalahnya di kapasitas memori saya...

Tadi malam, setelah mendengarkan curhatan si Mbah di dapur ( detail kejadiannya adalah saya sedang sibuk mengulek cabe,garam,terasi,gula dengan siraman cuka dari Karangasem...slrruuppp..kemudian dicemlpungkan dengan ceria jeruk kintamani yang manis..mantap deh rujak buatan mbah poksi), oh ya kembali tentang curhat, bahwa si Mbah ingin dimanja sesekali , karena memang sampai umurnya yang sudah udzur sekarang ini, dia selalu terlihat sibuk ,entah digelayuti cucu-cucunya yang masih kecil (sementara cucunya yang sudah besar hanya menonton atraksi brutal oleh sepupunya, semacam tontonan a la smack down live), repot dengan segala tetek bengek atribut untuk sembahyang( karena cucunya yang sudah besar tidak becus membuat dan hanya menghabiskan janur untuk eksperimen), terlihat mondar mandir dengan perlengkapan harian pembantu rumah tangga( kalau yang ini sih karena cucunya yang besar ini setelah membabu sekian lama dan akhirnya sekarang agak trauma dengan atribut yang mengingatkannya pada pengalaman pahit sebagai anak bungsu..ha ha ha)Memang kedengerannya sadis ya, kok nenek sendiri di'siksa' sedemikian rupa?Tapi begitulah si Mbah, perempuan Bali sejati, yang selalu rajin bekerja, melayani keluarga, dan Tuhan....sehingga....

Untuk memberi variasi pada hidupnya, saya mengajaknya makan di d'cost, karena cerita bahwa nasinya cuma 1000 rupiah, si Mbah bersemangat ikut (ibu rumah tangga sekali ya...ha ha ha).Kami makan bertiga, saya, Mbah dan sepupu saya yang masih kecil yang kebetulan sedang liburan dan menginap di rumah. Kelihatannya Mbah tidak menyangka bahwa restaurant (atau yang sudah di indonesiakan menjadi restoran)yang nasinya 1000 trus boleh nambah sepuasnya itu cukup besar .Walaupun awalnya agak keder, tapi berbekal pengalamannya menjajal mall di Surabaya, terlihat dia berjalan agak pelan tapi pasti (setelah diselidiki ternyata jalan pelannya karena rematik ha ha ha).Setelah pesanan kami datang, si Mbah dengan sedikit memaksakan diri berusaha menggunakan sendok. Kasihan sekali, keliatannya nasi dan sendoknya punya dendam kesumat, karena lari larian tanpa bisa dikendalikan. Saya sendiri adalah orang yang suka makan dengan sendok, karena malas kalau tangan saya menyimpan aroma ajaib dari makanan,ditambah sekeliling saya semua makan dengan suara gemerinting sendok bertemu garpu, tapi melihat Mbah bersusah payah begitu, saya memutuskan untuk membuatnya bisa menikmati makanannya...mari kita makan dengan TANGAN!!!!Hebatnya ide ini ditolak mentah mentah oleh si Mbah yang mungkin ingin terlihat
modern :)Tetapi setelah saya mencuci tangan dan mulai makan dengan nikmat, tampaknya goyah juga iman si Mbah, akhirnya  dia mulai makan menggunakan tangan dengan  lahap hingga kekenyangan.

Sejak tadi malam sepulang dari restoran (yang istilah baratnya restaurant),beberapa kali Mbah mengatakan akan mengajak saudara saya yang lain untuk makan disana, karena namanya yang agak susah diingat, dia sudah mewanti sepupu saya untuk menghapal lokasinya, ha ha ha...Setelah saya pikir lagi, masakan disana sih biasa saja, harga juga kalau ditotal ya ngga murah murah banget, tapi mungkin kesan bisa makan dengan tangan di restaurant itu yang benar benar mengena didirinya.Kadang kita memang harus memberikan kebebasan untuk mereka menikmati sesuatu dengan cara mereka sendiri....