Dia telah membuktikan dirinya sebagai anak yang paling kuat, bertahan dikala semua saudaranya berguguran satu persatu karena sakit.Juga paling lucu dengan warna bulu hitam pada hampir seluruh kulitnya, dan hanya menyisakan putih pada ujung kakinya, seperti memakai kaos kaki.
Saya belum sempat memberinya nama, memanggilnya 'anak anjing' saja.
Hanya sesekali bermain dengannya, dia suka sekali kalau perutnya dielus elus, dan disuapi makanan.Walaupun sedang flu, tertular dari Bacil, ibunya, tapi nafsu makannya masih baik. Ekornya yang hanya sebesar jari kelingking saya terkibas kibas dengan kencang jika dia diperhatikan.
Saya yakin dia akan sembuh karena sebelum saya berangkat menjemput ibu, dia terlihat ceria mengunyah sambil kedua kaki depannya memeluk ubi manis pemberian saya.
Seandainya saya menyetir lebih hati hati mungkin si anak anjing masih akan menikmati makanan lain selain ubi manis.
Cukup lama saya mengelusnya dengan perasaan sangat sedih melihatnya meregang nyawa.
Semua doa yang saya ucapkan untuknya hanya upaya untuk mengurangi perasaan sangat bersalah untuk kecerobohan saya.
Semua kemarahan saya kepada Bacil dan Babi yang membiarkan si anak anjing berjalan mendekati mobil yang sedang melaju hanya usaha saya untuk mencari pihak lain untuk disalahkan.
Beberapa detik setelah saya merasa telah melindasnya, dan melihat sosok kecil berwarna hitam menggelepar di halaman dari kaca spion mobil, saya tau bahwa saya telah membunuhnya.Sore yang sangat menyedihkan...
Selasa, 29 Juli 2008
Jumat, 25 Juli 2008
Masa Lalu dan Masa Sekarang
Dengan adanya pembangunan rumah yang tepat disebelah kamar saya, tidak hanya menyebabkan polusi suara (sekarang tercipta kolaborasi antara suara Kaok Kaok ayam jago tetangga dengan Kletak Kletok palu...indahnya...), tapi juga polusi udara (setelah sebelumnya hobi si tetangga membakar sampah di sore hari dan dengan mantap dihembuskan angin ke dalam rumah, membuat kita berasa hendak diawetkan dengan cara pengasapan, kini ditambah debu dari pembersihan lahan untuk mereka bangun.
Karena itu, beberapa hari lalu, sehabis melakukan kerja rodi dalam rangka menyambut upacara ngaben di Karangasem, saya memutuskan untuk tidur siang sejenak di kamar Ibu saya yang lebih bebas polusi.
Ibu saya adalah orang yang sederhana, tidak terlalu suka teknologi (menjelaskan teriakan minta tolong setiap dia berada di depan komputer atau ketika dia ceritanya berniat mengutak-atik hpnya), dan barang yang berada di kamarnya adalah benda yang telah saya lihat hampir sepanjang hidup saya.Ol skul abis..kurang lebih begitulah istilahnya.
Ketika saya dengan iseng melihat koleksi bukunya, saya menemukan novel jaman saya muda dulu, Olga si gadis yang kemana mana pakai sepatu roda.
Iseng saya baca lagi, ha ha ha... tentang KDM (Korban Demi Moore- ketika dia main film Ghost dengan potongan rambutnya seperti anak laki cupu, yang sumhow dulu keren banget), tentang mobil civic wondernya Wina(sahabatnya Olga), saya inget dulu mobil ini mobil wajib semua anak muda, mungkin seperti honda jazz jaman sekarang deh..Tentang telepon umum koin (...dulu itu adalah tempat ngetem anak anak yang pacaran di telp,sampai dibelakang pada ngantre ha ha ha ha...),tentang GnR,Metallica semua grup rock dengan suara melengking dan rambut gondrong gombarang gambring( sekarang masih dengan setia dilestarikan oleh Serius Band)dan majalah MODE...ha ha ha ya ampun itu majalah udah ga terbit lagi...
Begitulah kenangan masa lalu, kadang kita bahkan tidak menyadari kita terbentuk olehnya. Seperti pada diri saya, di profile saya hanya mencantumkan nama penulis yang saya baca sekarang, yang menurut saya kaya dengan kedalaman cerita, dan melupakan penulis yang sebenarnya sangat berjasa dalam membentuk minat baca saya, yaitu Hilman, penulis ngocol serial Lupus dan Olga.
Sehingga jika dilihat lagi, pengaruh awal Hilman atas cara menulis saya yang ingin mengajak pembaca tertawa, sangatlah besar, walaupun kemudian tercampur dengan gaya metafora Seno Gumira dan sedikit kedalaman makna hidup a la Coelho.
Mungkin jika kita bisa meluangkan waktu untuk mereview kembali pengalaman hidup kita, melihat detailnya lebih dekat dan merasakan emosi yang tercipta didalamnya, bisa membantu kita menyadari betapa kompleksnya pembentuk diri kita sekarang.
Lalu pertanyaannya , kenapa dibuat ribet? Mikirin masalah sehari hari aja udah bikin pusing...iya ngga?
Hidup saya ibaratnya lemari. Kita isi dengan bermacam baju pengalaman. Jika kita tidak rajin mensortirnya, seperti emosi negatif, baju jaman dulu yang terlalu memalukan untuk dipakai tapi sayang untuk dibuang, dan terus menumpuk hingga penuh sesak. Ini adalah keadaan dimana kita tidak punya cukup baju yang membuat kita merasa nyaman dan percaya diri, dan tragisnya disaat yang bersamaan tidak memungkinkan untuk menyimpan baju baru.Penggambaran secara umum untuk kondisi ini adalah putus asa.
Tapi kembali hidup ini adalah pilihan, tidak ada yang wajib. Memang ada orang yang lebih suka mengeluhkan hidupnya yang sumpek, lebih nyaman untuk membahas emosi negatifnya dibanding melakukan pembersihan lemari karena mungkin dari itu dia bisa mendapatkan perhatian dari orang lain, atau alasan lainnya, dan itu sah sah saja.
Hanya saja yang perlu diingat, kebahagiaan kita berasal dari sikap, untuk itu berhati hatilah mengambil keputusan dan mari kita belajar bertanggung jawab atasnya..
Karena itu, beberapa hari lalu, sehabis melakukan kerja rodi dalam rangka menyambut upacara ngaben di Karangasem, saya memutuskan untuk tidur siang sejenak di kamar Ibu saya yang lebih bebas polusi.
Ibu saya adalah orang yang sederhana, tidak terlalu suka teknologi (menjelaskan teriakan minta tolong setiap dia berada di depan komputer atau ketika dia ceritanya berniat mengutak-atik hpnya), dan barang yang berada di kamarnya adalah benda yang telah saya lihat hampir sepanjang hidup saya.Ol skul abis..kurang lebih begitulah istilahnya.
Ketika saya dengan iseng melihat koleksi bukunya, saya menemukan novel jaman saya muda dulu, Olga si gadis yang kemana mana pakai sepatu roda.
Iseng saya baca lagi, ha ha ha... tentang KDM (Korban Demi Moore- ketika dia main film Ghost dengan potongan rambutnya seperti anak laki cupu, yang sumhow dulu keren banget), tentang mobil civic wondernya Wina(sahabatnya Olga), saya inget dulu mobil ini mobil wajib semua anak muda, mungkin seperti honda jazz jaman sekarang deh..Tentang telepon umum koin (...dulu itu adalah tempat ngetem anak anak yang pacaran di telp,sampai dibelakang pada ngantre ha ha ha ha...),tentang GnR,Metallica semua grup rock dengan suara melengking dan rambut gondrong gombarang gambring( sekarang masih dengan setia dilestarikan oleh Serius Band)dan majalah MODE...ha ha ha ya ampun itu majalah udah ga terbit lagi...
Begitulah kenangan masa lalu, kadang kita bahkan tidak menyadari kita terbentuk olehnya. Seperti pada diri saya, di profile saya hanya mencantumkan nama penulis yang saya baca sekarang, yang menurut saya kaya dengan kedalaman cerita, dan melupakan penulis yang sebenarnya sangat berjasa dalam membentuk minat baca saya, yaitu Hilman, penulis ngocol serial Lupus dan Olga.
Sehingga jika dilihat lagi, pengaruh awal Hilman atas cara menulis saya yang ingin mengajak pembaca tertawa, sangatlah besar, walaupun kemudian tercampur dengan gaya metafora Seno Gumira dan sedikit kedalaman makna hidup a la Coelho.
Mungkin jika kita bisa meluangkan waktu untuk mereview kembali pengalaman hidup kita, melihat detailnya lebih dekat dan merasakan emosi yang tercipta didalamnya, bisa membantu kita menyadari betapa kompleksnya pembentuk diri kita sekarang.
Lalu pertanyaannya , kenapa dibuat ribet? Mikirin masalah sehari hari aja udah bikin pusing...iya ngga?
Hidup saya ibaratnya lemari. Kita isi dengan bermacam baju pengalaman. Jika kita tidak rajin mensortirnya, seperti emosi negatif, baju jaman dulu yang terlalu memalukan untuk dipakai tapi sayang untuk dibuang, dan terus menumpuk hingga penuh sesak. Ini adalah keadaan dimana kita tidak punya cukup baju yang membuat kita merasa nyaman dan percaya diri, dan tragisnya disaat yang bersamaan tidak memungkinkan untuk menyimpan baju baru.Penggambaran secara umum untuk kondisi ini adalah putus asa.
Tapi kembali hidup ini adalah pilihan, tidak ada yang wajib. Memang ada orang yang lebih suka mengeluhkan hidupnya yang sumpek, lebih nyaman untuk membahas emosi negatifnya dibanding melakukan pembersihan lemari karena mungkin dari itu dia bisa mendapatkan perhatian dari orang lain, atau alasan lainnya, dan itu sah sah saja.
Hanya saja yang perlu diingat, kebahagiaan kita berasal dari sikap, untuk itu berhati hatilah mengambil keputusan dan mari kita belajar bertanggung jawab atasnya..
Rabu, 23 Juli 2008
Ujian Kesabaran
Telah dipublikasikan sebelumnya pada 25-6-2008
Ketika saya sedang berjalan santai di sore hari beberapa hari yang lalu, ada sebuah kejadian yang secara teori tidak masuk akan menimpa pada seorang 'saya'. sebelum membahas kejadian yang mengerikan itu, ada baiknya saya menyebutkan beberapa alasan teori tersebut,dan juga analisa kegagalannya:
satu. Badan saya tinggi dan besar(dihiasi tattoo tattoo yang cantik).logikanya orang tidak berniat macam macam demi melihat postur saya.-berarti unsur hot pants memang bisa membutakan mata orang...
dua. Saya sedang berjalan sore bersama anjing betina bernama babi-mungkin karena dia anjing kacang jadi pamornya engga se'garang' produk impor, tipikal produk buatan dalam negeri ya?
tiga.Kejadiannya di lingkungan rumah saya, yang beberapa meter adalah banjar tempat berkumpulnya pemuda ketapian( dengan motto ketapian power-nya) yang saya rasa rata-rata beritikad untuk bergabung dengan Laskar Bali, atau organisasi keamanan masyarakat sejenisnya- jadi seharusnya pelaku bisa dihajar massa..
Kalau saudara- saudara membaca dengan seksama , sudah bisa dipastikan korbannya saya, saksinya si babi,anjing yang tidak berguna, kejadiannya di lingkungan rumah....Pertanyaannya apa yang terjadi?(kalau perlu dibaca dengan seakan akan memakai caps lock dan nada tinggi untuk mendramatisir keadaan)
Seseorang dengan helm teropong berwarna putih merah dan jacket parasut merah bulukan, naik motor supra dengan nomor polisi DK 3388 (ga keliatan belakangnya saking dekilnya itu motor) berani beraninya menyolek saya lalu kabur ngebut dengan motornya yang butut.
Perlu 10 menit untuk berhenti mengumpat umpat, 1 hari untuk berhenti mendoakan segala hal buruk yang saya harap menimpanya, 2 hari untuk mulai memaafkan dan berdamai dengan amarah saya, dan 3 hari untuk menceritakan pada orang lain( sebagai cerita yang menggelikan)
Ternyata saatnya teori kesabaran akhirnya bertemu dengan ujiannya. Walaupun dari 5 menit setelah tragedi itu saya tahu bahwa jalan terbaik sesuai teori belajar menjadi orang yang sabar dan dicerahkan adalah memaafkan,karena semua hal akan mendapat balasannya tanpa kita ikut berusaha berlebihan, tapi begitu besar keinginan untuk melihat dia mendapat ganjarannya, tepat di depan mata saya ,sambil saya tertawa tawai jahat seperti tokoh antagonis di sinetron. Sempat terpikir, seharusnya saya berteriak maling atau copet supaya semua orang yang sedang nongkrong di banjar mencegat dan menggebukinya, sukur sukur ada yang nyiram pake bensin dan membakar dia hidup- hidup, pasti puaaassssss (ngalahin iklan luna maya dengan XLnya)...Tapi setelah hari ini saya bersyukur tidak meneriakinya dan sudah bisa memaafkan si pelaku tindakan asusila itu, walaupun perlu waktu beberapa hari, tapi pelajaran ini menyadarkan saya betapa jauhnya saya dari kesadaran dan cinta kasih...
dan juga betapa menggodanya saya ketika memakai hot pants, ha ha ha ha....
Ketika saya sedang berjalan santai di sore hari beberapa hari yang lalu, ada sebuah kejadian yang secara teori tidak masuk akan menimpa pada seorang 'saya'. sebelum membahas kejadian yang mengerikan itu, ada baiknya saya menyebutkan beberapa alasan teori tersebut,dan juga analisa kegagalannya:
satu. Badan saya tinggi dan besar(dihiasi tattoo tattoo yang cantik).logikanya orang tidak berniat macam macam demi melihat postur saya.-berarti unsur hot pants memang bisa membutakan mata orang...
dua. Saya sedang berjalan sore bersama anjing betina bernama babi-mungkin karena dia anjing kacang jadi pamornya engga se'garang' produk impor, tipikal produk buatan dalam negeri ya?
tiga.Kejadiannya di lingkungan rumah saya, yang beberapa meter adalah banjar tempat berkumpulnya pemuda ketapian( dengan motto ketapian power-nya) yang saya rasa rata-rata beritikad untuk bergabung dengan Laskar Bali, atau organisasi keamanan masyarakat sejenisnya- jadi seharusnya pelaku bisa dihajar massa..
Kalau saudara- saudara membaca dengan seksama , sudah bisa dipastikan korbannya saya, saksinya si babi,anjing yang tidak berguna, kejadiannya di lingkungan rumah....Pertanyaannya apa yang terjadi?(kalau perlu dibaca dengan seakan akan memakai caps lock dan nada tinggi untuk mendramatisir keadaan)
Seseorang dengan helm teropong berwarna putih merah dan jacket parasut merah bulukan, naik motor supra dengan nomor polisi DK 3388 (ga keliatan belakangnya saking dekilnya itu motor) berani beraninya menyolek saya lalu kabur ngebut dengan motornya yang butut.
Perlu 10 menit untuk berhenti mengumpat umpat, 1 hari untuk berhenti mendoakan segala hal buruk yang saya harap menimpanya, 2 hari untuk mulai memaafkan dan berdamai dengan amarah saya, dan 3 hari untuk menceritakan pada orang lain( sebagai cerita yang menggelikan)
Ternyata saatnya teori kesabaran akhirnya bertemu dengan ujiannya. Walaupun dari 5 menit setelah tragedi itu saya tahu bahwa jalan terbaik sesuai teori belajar menjadi orang yang sabar dan dicerahkan adalah memaafkan,karena semua hal akan mendapat balasannya tanpa kita ikut berusaha berlebihan, tapi begitu besar keinginan untuk melihat dia mendapat ganjarannya, tepat di depan mata saya ,sambil saya tertawa tawai jahat seperti tokoh antagonis di sinetron. Sempat terpikir, seharusnya saya berteriak maling atau copet supaya semua orang yang sedang nongkrong di banjar mencegat dan menggebukinya, sukur sukur ada yang nyiram pake bensin dan membakar dia hidup- hidup, pasti puaaassssss (ngalahin iklan luna maya dengan XLnya)...Tapi setelah hari ini saya bersyukur tidak meneriakinya dan sudah bisa memaafkan si pelaku tindakan asusila itu, walaupun perlu waktu beberapa hari, tapi pelajaran ini menyadarkan saya betapa jauhnya saya dari kesadaran dan cinta kasih...
dan juga betapa menggodanya saya ketika memakai hot pants, ha ha ha ha....
Kermit
Telah dipublikasikan pada 18 juli 2008 11:53 AM
Tidak ada nama yang lebih pantas. Kermit it is.
Pertama saya melihatnya, yang terbayang adalah sebuah keranjang buah dengan empat roda kecil dibawahnya.Mungil dan menggemaskan.
Dari awal dia memang sudah dibuat spesial (setidaknya begitulah pengakuan sang pemilik yang berinisial JKY), diklaim sebagai satu satunya Chevrolet Spark yang memiliki kulit jok hijau, diserasikan dengan warna catnya, dengan bingkai strip hitam yang beredar di kota Denpasar.
Saya akan menceritakan secara singkat sejarah kedatangan Kermit dalam hidup kami.
Kurang lebih empat tahun yang lalu, JKY yang pada masa itu baru datang dan mengadu nasib bekerja di Bali menjadi 'resepsionis yang suka mengaku sebagai dokter' akhirnya bisa membeli sebuah mobil yang sangat diidam idamkannya.
Mobil yang kurang populer, lengkap dengan analisa secara umum bahwa di kemudian hari perawatannya akan menguras kantong serta harga jual yang dipastikan terjun bebas.
Tapi dengan semua pertimbangan itu, kenapa dia tetap memilih untuk membelinya?
Mungkin disana letak unsur 'selera'. Dan JKY terlihat tidak berminat untuk berkompromisasi dengan semua pertimbangan diatas, dengan mantap tetap memilih sesuatu yang membuat dia merasa 'puas'.
Sejalan dengan bergantinya waktu, Kermit dengan setia menemani JKY berangkat ke kantor serta petualangan kami dari berputar putar tanpa tujuan(harap maklum,kondisi harga bensin jaman itu belum semahal sekarang), pergi keluar kota, menjemput teman-teman yang berlibur ke Bali (harusnya kita bikin souvenir dengan gambar Kermit buat mereka tuh..)diiringi lagu lagu the corrs(ditaruh pada cd changer secara permanen), a la 80-90'an (optional hanya jika mengajak orang dengan umur sepantar untuk bernostalgia), sok R n B dengan lagu so sick yang terus diulang sampai semua benar benar sick of it (ketika mbah Poksi numpang dan berlaku sewenang wenang), dan lagu klasik (no comment deh yang satu ini,VIGAROOO VIGAROOOO...).
Hingga tibalah saat ketika Kermit mulai menunjukkan gejala sakit sakitan. Mungkin karena didorong rasa sayangnya, JKY rela menjalani pola hidup orang melarat untuk bisa mengalokasikan dana yang cukup besar demi kesembuhan Kermit.
Perasaan lega terasa ketika Kermit bisa kembali meluncur dengan ceria, walau sayangnya tidak untuk waktu yang lama, karena beberapa bulan setelah itu penyakitnya kembali kambuh.
Pada titik itu tampaknya JKY dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Mempertahankan atau Menjual?
Mungkin jika disebarkan angket pada masyarakat awam, kemungkinan besar hasilnya 80% mengatakan dijual, 5% mempertahankan dan 15% menjawab tidak tahu.
Dilihat dari perhitungan logika memang keputusan menjual yang menjadi pilihan populer, dengan pertimbangan tidak ada jaminan bahwa penyakitnya bisa disembuhkan dan JKY hanya akan dirongrong secara perlahan dengan biaya perbaikan.
Kali ini JKY memilih logika. Bisa saya katakan itu adalah keputusan yang sangat berat, karena perpisahan dengan hal yang begitu banyak menyimpan kenangan adalah hal yang berat. Sangat berat.
Mendengar kabar Kermit akan dijual bisa saya gambarkan seperti ketika tengkuk dihembus angin yang sangat dingin, yang membuat kita terdiam dengan badan mengkerut untuk sesaat, lalu kemudian potongan kenangan demi kenangan mulai muncul secara acak diiringi emosi yang membingungkan yang kemudian perlahan saya sadari sebagai didominasi kesedihan. Biru
Memang kedengaran sentimentil sekali untuk begitu terikat secara emosi pada sebuah benda, atau kenangan di dalamnya.
Tapi bagaimanapun dia adalah Kermit kami....
Tidak ada nama yang lebih pantas. Kermit it is.
Pertama saya melihatnya, yang terbayang adalah sebuah keranjang buah dengan empat roda kecil dibawahnya.Mungil dan menggemaskan.
Dari awal dia memang sudah dibuat spesial (setidaknya begitulah pengakuan sang pemilik yang berinisial JKY), diklaim sebagai satu satunya Chevrolet Spark yang memiliki kulit jok hijau, diserasikan dengan warna catnya, dengan bingkai strip hitam yang beredar di kota Denpasar.
Saya akan menceritakan secara singkat sejarah kedatangan Kermit dalam hidup kami.
Kurang lebih empat tahun yang lalu, JKY yang pada masa itu baru datang dan mengadu nasib bekerja di Bali menjadi 'resepsionis yang suka mengaku sebagai dokter' akhirnya bisa membeli sebuah mobil yang sangat diidam idamkannya.
Mobil yang kurang populer, lengkap dengan analisa secara umum bahwa di kemudian hari perawatannya akan menguras kantong serta harga jual yang dipastikan terjun bebas.
Tapi dengan semua pertimbangan itu, kenapa dia tetap memilih untuk membelinya?
Mungkin disana letak unsur 'selera'. Dan JKY terlihat tidak berminat untuk berkompromisasi dengan semua pertimbangan diatas, dengan mantap tetap memilih sesuatu yang membuat dia merasa 'puas'.
Sejalan dengan bergantinya waktu, Kermit dengan setia menemani JKY berangkat ke kantor serta petualangan kami dari berputar putar tanpa tujuan(harap maklum,kondisi harga bensin jaman itu belum semahal sekarang), pergi keluar kota, menjemput teman-teman yang berlibur ke Bali (harusnya kita bikin souvenir dengan gambar Kermit buat mereka tuh..)diiringi lagu lagu the corrs(ditaruh pada cd changer secara permanen), a la 80-90'an (optional hanya jika mengajak orang dengan umur sepantar untuk bernostalgia), sok R n B dengan lagu so sick yang terus diulang sampai semua benar benar sick of it (ketika mbah Poksi numpang dan berlaku sewenang wenang), dan lagu klasik (no comment deh yang satu ini,VIGAROOO VIGAROOOO...).
Hingga tibalah saat ketika Kermit mulai menunjukkan gejala sakit sakitan. Mungkin karena didorong rasa sayangnya, JKY rela menjalani pola hidup orang melarat untuk bisa mengalokasikan dana yang cukup besar demi kesembuhan Kermit.
Perasaan lega terasa ketika Kermit bisa kembali meluncur dengan ceria, walau sayangnya tidak untuk waktu yang lama, karena beberapa bulan setelah itu penyakitnya kembali kambuh.
Pada titik itu tampaknya JKY dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Mempertahankan atau Menjual?
Mungkin jika disebarkan angket pada masyarakat awam, kemungkinan besar hasilnya 80% mengatakan dijual, 5% mempertahankan dan 15% menjawab tidak tahu.
Dilihat dari perhitungan logika memang keputusan menjual yang menjadi pilihan populer, dengan pertimbangan tidak ada jaminan bahwa penyakitnya bisa disembuhkan dan JKY hanya akan dirongrong secara perlahan dengan biaya perbaikan.
Kali ini JKY memilih logika. Bisa saya katakan itu adalah keputusan yang sangat berat, karena perpisahan dengan hal yang begitu banyak menyimpan kenangan adalah hal yang berat. Sangat berat.
Mendengar kabar Kermit akan dijual bisa saya gambarkan seperti ketika tengkuk dihembus angin yang sangat dingin, yang membuat kita terdiam dengan badan mengkerut untuk sesaat, lalu kemudian potongan kenangan demi kenangan mulai muncul secara acak diiringi emosi yang membingungkan yang kemudian perlahan saya sadari sebagai didominasi kesedihan. Biru
Memang kedengaran sentimentil sekali untuk begitu terikat secara emosi pada sebuah benda, atau kenangan di dalamnya.
Tapi bagaimanapun dia adalah Kermit kami....
Cukup Cukup

Telah dipublikasikan sebelumnya pada 02-7-2008
Tadi malam adalah salah satu malam yang paling 'hidup' dalam hidup saya...
Setelah sekian lama saya berkubang di lembah kemalasan, akhirnya Tuhan mengirim Ewelina untuk meminta saya berpartisipasi dalam pertunjukannya yang berjudul Cukup Cukup (terjemahan bebas dari Enough is Enough).
Pertunjukan ini menggabungkan tarian kontemporer yang dibawakan oleh Saby,si ramah dan baik hati(dari Venezuela) dan si super sexy Kaya(dari Cheko), musik gitar akustik dan beberapa atribut lenong lainnya oleh Evan- versi laki2 dari Saby (dari Amerika) dan si always sleepy Ralf(dari Jerman) dibantu oleh dua orang perancis yang saya lupa namanya(saya panggil mereka garcons supaya mudah..ha ha ha..)maklum dua orang pembangkit energi ini baru saja bergabung sehari sebelum pertunjukan (Ewe..u were so crazy!ha ha ha..),Jon si kalem dan saya sebagai pengisi suara wayang.
Cukup Cukup bercerita tentang pengalaman mereka sebagai bule yang belajar di Bali (mungkin sebenarnya lebih ke pengalaman Ewe), semua related dengan perasaan menyadari betapa putihnya dia diantara orang Bali.Betapa banyak adat kebiasaan yang berbeda, betapa membingungkan menjalani hidup di dunia yang berbeda, perasaan kesepian akan orang yang dicintai di negaranya, hingga kemarahan karena merasa putus asa.
Wayang saya bentuknya sedikit mirip petruk yang hidungnya agak mengembang,persis seperti orang yang kena efek minum jamu racikan,kalau tidak salah nama efeknya moon face, dengan perut yang seperti busung lapar ( tapi menurut Ewe sebagai pembuatnya ini adalah wayang unisex) menggambarkan 4 karakter tipikal orang Bali, Wayan,ibu rumah tangga yang ingin tampil mentereng, Kadek, pegawai negeri yang lebih banyak jalan jalan, Komang, penjaga warnet pemalu yang merasa melalui chatting di internet dia bisa menemukan kenyamanan, dan Ketut si patriotik yang marah karena pulaunya di eksploitasi untuk industri pariwisata.
Ini adalah kali pertamanya saya naik ke panggung dan bermain teater (walaupun memang sepanjang hidup saya selalu membuat aksi aksi bodoh dengan meniru karakter orang lain, tapi tentu tidak bisa disamakan ya?). Saya sedikit merasa gugup tapi entah kenapa ya..mungkin karena energi team work, saya merasa tidak sendiri...susah untuk dijelaskan, seperti ada kekuatan yang membuat kami adalah satu kesatuan yang solid. Sangat membuat nyaman, dan memang etos kerja yang selalu ditekankan oleh Ewe adalah menikmati peran masing- masing, instead of berusaha tampil dengan sempurna.
Senang sekali mendengar keprok keprok dari penonton pada setiap adegan yang kami lakukan, bahkan menurut kesaksian Ladyroker sahabatku yang bersedia menjadi seksi dokumeter (dan apapun yang berhubungan dengan keseksi seksian hi hi hi...korban nonton Sex and The City tuh Ka..terobsesi ama Samantha kan jadinya..) dia bisa merasakan terhanyut kedalam pertunjukan karena keharmonisasian tata lampu, perpaduan permainan karakter bayangan di balik layar dan tarian di depan layar, tata suara yang sederhana tapi sangat bisa membangun suasana, dan pergerakan cerita yang memainkan emosi penonton, yang membuat saya merasa kerja keras berlatih kami dan ketelitian Ewe sebagai sutradara terbayar sudah.
SENANG SEKALI!
O ya, juga pujian dari sahabat saya si Jengkol Ceking yang bela belain ke tempat yang paling macet di denpasar dengan mobil barunya karena acara Pesta Kesenian-nya, yang mungkin mengundang resiko bermasalah dengan polisi (iya ini akan menjadi rahasia antara lu,gw, si koncreng dan omnya koncreng Jek...).SENANG SEKALI(S)!ha ha ha ha....
Thanks to all my darlings for last night...i love u all XoXoXoXo
-ditutup dengan lagu dari Barney-
I love u, u love me, we're a happy family, with a great big hug and kiss from me to u, won't u say u love me too......
Rumah di Jalan Menuri
Telah dipublikasikan sebelumnya pada 16-06-2008
Pernahkah kamu bertanya, kenapa ada suatu tempat yang mempengaruhi mahluk hidup yang mengunjunginya?
Apakah karena muatan energi yang dibangun oleh mahluk hidup yang menempatinya?(atau dibeberapa kasus ekstrem, pengaruh mahluk yang sudah tidak hidup secara fisik?-narasi a la acara Insert disertai suara lolongan anjing-)
Jadi demikianlah, beberapa hari belakangan ini saya cukup banyak meluangkan waktu( yang memang sebenarnya sangat luang) di sebuah rumah di jalan Menuri. Rumah yang sudah cukup lama berdiri disana dan kini telah mengalami perombakan dengan style villa tropical modern minimalis.
Yang meskipun menurut pengakuan pemiliknya, Om Mahendra, adalah suatu bangunan dengan perencanaan yang teledor, tapi untuk saya, tempat ini sangat menarik dan seperti layaknya rakyat jelata lainnya,menjadikan cita-cita dimasa depan.
Tetapi terpisah dari bentuk fisiknya yang menarik, ada energi dari penghuninya yang benar benar merasuki saya( apakah ini penjelasan untuk beberapa hari yang penuh kreatifitas?).
Pembicaraan tentang hal yang terjadi di masyarakat kita, lelucon tentang pengalaman masing- masing, walaupun ada lintas generasi, diselingi suguhan cemilan (kebetulan tadi malam jenis cemilannya adalah tipikal si ladyroker, yaitu nasi dan lauk pauknya)..membangkitkan sesuatu dari diri saya.
Pertanyaan yang terus teriang di kepala ketika jalan pulang (selain sapaan genit mas mas tanpa helm "mau kemana mbak?")adalah apakah yang ingin saya lakukan dalam hidup?
Pertanyaan sama yang ingin saya tanyakan pada diri saya sendiri.
Saya adalah orang yang suka mencoba dan belajar menikmati hidup ini. Tapi mengutip kata orang bijak, orang yang diberikan anugerah kepintaran biasanya akan mudah bosan dan susah fokus pada satu hal untuk menjadi expert.
Mungkin saya perlu suatu insentif untuk menjaga fokus saya. Apakah itu uang?
Om Mahendra menyadarkan saya bahwa saya takut pada uang. Aneh, karena saya selalu mengira kalau saya suka bahkan tergila gila padanya (bersama 90% manusia lainnya).Beliau menyarakan agar saya memandang uang hanya sebagai sarana yang mempermudah kita menjalani hidup, bukan jebakan yang menyesatkan (mungkin ini salah satu resepnya menjadi salah satu orang yang hidup sangat berkecukupan?)
Sampai saat tulisan ini diketik, saya masih berusaha melihat hubungan antara uang, kreatifitas, tujuan dan menikmati hidup. Mungkin kata penghubung dari itu semua adalah kesederhanaan?
Pernahkah kamu bertanya, kenapa ada suatu tempat yang mempengaruhi mahluk hidup yang mengunjunginya?
Apakah karena muatan energi yang dibangun oleh mahluk hidup yang menempatinya?(atau dibeberapa kasus ekstrem, pengaruh mahluk yang sudah tidak hidup secara fisik?-narasi a la acara Insert disertai suara lolongan anjing-)
Jadi demikianlah, beberapa hari belakangan ini saya cukup banyak meluangkan waktu( yang memang sebenarnya sangat luang) di sebuah rumah di jalan Menuri. Rumah yang sudah cukup lama berdiri disana dan kini telah mengalami perombakan dengan style villa tropical modern minimalis.
Yang meskipun menurut pengakuan pemiliknya, Om Mahendra, adalah suatu bangunan dengan perencanaan yang teledor, tapi untuk saya, tempat ini sangat menarik dan seperti layaknya rakyat jelata lainnya,menjadikan cita-cita dimasa depan.
Tetapi terpisah dari bentuk fisiknya yang menarik, ada energi dari penghuninya yang benar benar merasuki saya( apakah ini penjelasan untuk beberapa hari yang penuh kreatifitas?).
Pembicaraan tentang hal yang terjadi di masyarakat kita, lelucon tentang pengalaman masing- masing, walaupun ada lintas generasi, diselingi suguhan cemilan (kebetulan tadi malam jenis cemilannya adalah tipikal si ladyroker, yaitu nasi dan lauk pauknya)..membangkitkan sesuatu dari diri saya.
Pertanyaan yang terus teriang di kepala ketika jalan pulang (selain sapaan genit mas mas tanpa helm "mau kemana mbak?")adalah apakah yang ingin saya lakukan dalam hidup?
Pertanyaan sama yang ingin saya tanyakan pada diri saya sendiri.
Saya adalah orang yang suka mencoba dan belajar menikmati hidup ini. Tapi mengutip kata orang bijak, orang yang diberikan anugerah kepintaran biasanya akan mudah bosan dan susah fokus pada satu hal untuk menjadi expert.
Mungkin saya perlu suatu insentif untuk menjaga fokus saya. Apakah itu uang?
Om Mahendra menyadarkan saya bahwa saya takut pada uang. Aneh, karena saya selalu mengira kalau saya suka bahkan tergila gila padanya (bersama 90% manusia lainnya).Beliau menyarakan agar saya memandang uang hanya sebagai sarana yang mempermudah kita menjalani hidup, bukan jebakan yang menyesatkan (mungkin ini salah satu resepnya menjadi salah satu orang yang hidup sangat berkecukupan?)
Sampai saat tulisan ini diketik, saya masih berusaha melihat hubungan antara uang, kreatifitas, tujuan dan menikmati hidup. Mungkin kata penghubung dari itu semua adalah kesederhanaan?
Roti Palm
Telah dipublikasikan sebelumnya pada 07-07-2008
Ada cerita dengan moral di weekend ini, jadi ada baiknya kalian menyiapkan cemilan, dan juga obat tetes mata (tidak wajib hukumnya tapi sekedar untuk jaga- jaga).
Kisah ini dimulai dengan reuni saya dengan roti Palm.uUuuWww......(gerakan badan bergetar seiring dengan mata menyipit dan mulut mengkrucut). Roti ini adalah salah satu jajan favorit saya jaman SD dulu, asli buatan Bali (satu level dengan roti sisir ramayana yang saya curiga kuningnya pake pewarna textil, tapi yaa...kalo tidak membunuh mungkin lama- lama juga meningkatkan daya imun badan?hi hi hi), ada beberapa pilihan rasa ; Kelapa( tulisan merah - kesukaankuuww), Keju (tulisan kuning- lebih mahal dari yang lain karena kejunya...terasaaaaa banget), Coklat (tulisan biru- enak tapi kalau coklatnya kena kunyah suka meninggalkan rasa ngilu di gigi), Selai nanas ( tulisan putih -dulu sering saya kira rasa kelapa, dan berkali kali tertipu lagi, mungkin sejenis disleksia untuk kasus relasi antara warna dan rasa ) dan pisang (maap pembaca saya lupa detailnya...hi hi hi, abis kemaren ga beli)
Pabrik pembuatannya ada di dalam salah satu gang di jalan Imam Bonjol Denpasar, mungkin karena sudah melewati masa kejayaannya, secara pesaingnya jaman sekarang sekelas Sari Roti, Bread Talk, dan semua geng roti dengan kwalitas standar bule, sekarang bangunannya kurang terawat, kalau saja tidak ada si Bapak yang menunggu terkantuk kantuk di balik meja yang terbuat dari tegel putih kotak a la tahun 80an, kita tidak akan bisa menduga masih ada kegiatan produksi roti disana.
Si Bapak juga tidak terlalu antusias dengan kedatangan kami, mungkin kami mengganggu jam 'uyuk-uyuk' sorenya, atau dikasus lebih ekstreem, dia dianugerahi wajah datar ( pembuat spongebob mendapatkan ide untuk tokoh Squidward dari si bapak ini?).
Saya dengan kalap menghamburkan uang (yang sebenarnya adalah uang ibu saya yang malang dan hanya bisa takjub melihat anaknya kesetanan sambil memilih roti juga tak berhenti henti mengunyah ha ha ha ha), total pembelanjaan kami 50rb-an dan mendapat setas kresek penuh roti yang penuh kenangan masa lalu saya.
Memang benar loh sodara sodara, kalau kalap itu cuma memuaskan sementara, setelah roti ke empat, saya mulai merasa agak 'uleg-uleg'an( terjemahannya adalah perasaan mual).
Disini pertarungan antara INGIN dan PERLU berkecamuk (mohon dimainkan genderang perang untuk efek dramatisnya).
Saya tidak perlu makan semua roti yang sudah saya beli, tapi saya ingin! Rasa ingin ini dengan cepat menemukan banyak alasan yang sangat dibuat buat tapi berusaha saya yakini kebenarannya. Menyedihkan sekali ya?
Begitulah manusia, seperti halnya kasus sebelumnya, penerapan teori pada praktek nyatanya sungguh berat! Saya mengerti bahwa secukupnya pasti lebih baik daripada sebanyak banyaknya, tetapi sisi anak kecil saya yang tamak kelihatannya cukup menguasai untuk beberapa lama...
Kalau ada yang iseng berkomentar, Ya ampun...itu kan cuma roti?!Ga usah didramatisir deh...
Justru untuk hal yang kecil yang kita rasa layak dan bisa dapatkan secara berlebih lebihan biasanya kita kehilangan kendali. Mungkin kasus roti Palm saya bisa menjadi kasus perhatian, cinta, penghargaan, pengakuan dsb pada kehidupan orang lain...bahkan juga dikehidupan saya sendiri...
Akhirnya ketika sampai di rumah, saya sudah sangat memaksakan mengambil dua bungkus roti lagi, dengan maksud mengamankan dari dihabiskan oleh kakak saya (aduh adik yang sangat pelit....memalukan sekali), rencananya akan saya habiskan sambil menonton acara debat calon gubernur Bali. Tapi memang begitulah daya tampung kita tidak bisa berbohong, roti yang saya kunyah sudah semakin kehilangan kenikmatannya, dan hasil akhirnya adalah 3/4 sisa roti saya bagikan pada Babi dan Bacil (anjing anjing kacangku yang sangat cantik) dan satu bungkus lagi dengan penuh kerelaan saya berikan pada kakak saya.
Ternyata melihat kakak saya makan dengan lahap (kalau kasus anjing saya...err..mereka selalu lahap eniwei) dan menikmati secukupnya untuk diri sendiri dengan sukses bisa membuat senyum yang lebar di wajah saya...
He..he..he....yaa begitulah cerita hari ini, sebenarnya masih banyak kata kata yang melompat lompat di kepala, tapi...kan hikmah dari kisah ini adalah bagaimana menikmati sesuatu secukupnya, jadi sekian untuk malam ini
Diiringi dengan musik dari lagu So Sick -Ne Yo
Ada cerita dengan moral di weekend ini, jadi ada baiknya kalian menyiapkan cemilan, dan juga obat tetes mata (tidak wajib hukumnya tapi sekedar untuk jaga- jaga).
Kisah ini dimulai dengan reuni saya dengan roti Palm.uUuuWww......(gerakan badan bergetar seiring dengan mata menyipit dan mulut mengkrucut). Roti ini adalah salah satu jajan favorit saya jaman SD dulu, asli buatan Bali (satu level dengan roti sisir ramayana yang saya curiga kuningnya pake pewarna textil, tapi yaa...kalo tidak membunuh mungkin lama- lama juga meningkatkan daya imun badan?hi hi hi), ada beberapa pilihan rasa ; Kelapa( tulisan merah - kesukaankuuww), Keju (tulisan kuning- lebih mahal dari yang lain karena kejunya...terasaaaaa banget), Coklat (tulisan biru- enak tapi kalau coklatnya kena kunyah suka meninggalkan rasa ngilu di gigi), Selai nanas ( tulisan putih -dulu sering saya kira rasa kelapa, dan berkali kali tertipu lagi, mungkin sejenis disleksia untuk kasus relasi antara warna dan rasa ) dan pisang (maap pembaca saya lupa detailnya...hi hi hi, abis kemaren ga beli)
Pabrik pembuatannya ada di dalam salah satu gang di jalan Imam Bonjol Denpasar, mungkin karena sudah melewati masa kejayaannya, secara pesaingnya jaman sekarang sekelas Sari Roti, Bread Talk, dan semua geng roti dengan kwalitas standar bule, sekarang bangunannya kurang terawat, kalau saja tidak ada si Bapak yang menunggu terkantuk kantuk di balik meja yang terbuat dari tegel putih kotak a la tahun 80an, kita tidak akan bisa menduga masih ada kegiatan produksi roti disana.
Si Bapak juga tidak terlalu antusias dengan kedatangan kami, mungkin kami mengganggu jam 'uyuk-uyuk' sorenya, atau dikasus lebih ekstreem, dia dianugerahi wajah datar ( pembuat spongebob mendapatkan ide untuk tokoh Squidward dari si bapak ini?).
Saya dengan kalap menghamburkan uang (yang sebenarnya adalah uang ibu saya yang malang dan hanya bisa takjub melihat anaknya kesetanan sambil memilih roti juga tak berhenti henti mengunyah ha ha ha ha), total pembelanjaan kami 50rb-an dan mendapat setas kresek penuh roti yang penuh kenangan masa lalu saya.
Memang benar loh sodara sodara, kalau kalap itu cuma memuaskan sementara, setelah roti ke empat, saya mulai merasa agak 'uleg-uleg'an( terjemahannya adalah perasaan mual).
Disini pertarungan antara INGIN dan PERLU berkecamuk (mohon dimainkan genderang perang untuk efek dramatisnya).
Saya tidak perlu makan semua roti yang sudah saya beli, tapi saya ingin! Rasa ingin ini dengan cepat menemukan banyak alasan yang sangat dibuat buat tapi berusaha saya yakini kebenarannya. Menyedihkan sekali ya?
Begitulah manusia, seperti halnya kasus sebelumnya, penerapan teori pada praktek nyatanya sungguh berat! Saya mengerti bahwa secukupnya pasti lebih baik daripada sebanyak banyaknya, tetapi sisi anak kecil saya yang tamak kelihatannya cukup menguasai untuk beberapa lama...
Kalau ada yang iseng berkomentar, Ya ampun...itu kan cuma roti?!Ga usah didramatisir deh...
Justru untuk hal yang kecil yang kita rasa layak dan bisa dapatkan secara berlebih lebihan biasanya kita kehilangan kendali. Mungkin kasus roti Palm saya bisa menjadi kasus perhatian, cinta, penghargaan, pengakuan dsb pada kehidupan orang lain...bahkan juga dikehidupan saya sendiri...
Akhirnya ketika sampai di rumah, saya sudah sangat memaksakan mengambil dua bungkus roti lagi, dengan maksud mengamankan dari dihabiskan oleh kakak saya (aduh adik yang sangat pelit....memalukan sekali), rencananya akan saya habiskan sambil menonton acara debat calon gubernur Bali. Tapi memang begitulah daya tampung kita tidak bisa berbohong, roti yang saya kunyah sudah semakin kehilangan kenikmatannya, dan hasil akhirnya adalah 3/4 sisa roti saya bagikan pada Babi dan Bacil (anjing anjing kacangku yang sangat cantik) dan satu bungkus lagi dengan penuh kerelaan saya berikan pada kakak saya.
Ternyata melihat kakak saya makan dengan lahap (kalau kasus anjing saya...err..mereka selalu lahap eniwei) dan menikmati secukupnya untuk diri sendiri dengan sukses bisa membuat senyum yang lebar di wajah saya...
He..he..he....yaa begitulah cerita hari ini, sebenarnya masih banyak kata kata yang melompat lompat di kepala, tapi...kan hikmah dari kisah ini adalah bagaimana menikmati sesuatu secukupnya, jadi sekian untuk malam ini
Diiringi dengan musik dari lagu So Sick -Ne Yo
Label:
dari blog di friendster
cash atau kredit?
sebelumnya telah dipublikasikan pada 05-09-2007
(intro)
Mr.X : Mbah Darmo..( nada suara dibuat buat berwibawa)
Mbah Darmo : Iya Mr.X?( muka bersemangat)
Hehehehe..jikalau saudara saudara bertemu dengan saya dalam waktu dekat ini, kemungkinan anda akan saya suguhi dengan salam pembuka itu..karena itu adalah salah satu tontonan yang menghibur, menghibur karena ketidaklucuannya menjadikan itu lucu..( bingung Mbah Darmo?)he he he
Saya akan segera beranjak pada topik hari ini, kita akan membahas tentang pelajaran mencintai...
Jadi apakah mencintai itu ? menurut pengalaman saya, mencintai adalah ketika ego leave the house ( seperti halnya Elvis meninggalkan building ), karena cinta dan ego adalah dua hal serupa tapi tak sama .Apa dong bedanya?
Yaa...kalau cinta itu seperti membeli barang dengan menabung dulu, kita menahan keinginan berfoya foya (coba ya bahasanya Roma Irama mania..ha ha ha), ngiler ngiler liat orang lain belanja belinji, tapi waktu akhirnya bisa dapet barang yang kita mau rasanya lega gimanaaa gituuu (secara membayangkan penderitaan kita kemaren hari)..
TAPI...(apa tuh maksudnya pake huruf gede gede? hiperbola banget ya?)
kalau ego tuh ibaratnya belanja pake kredit, seneng aja dulu tapi belakangan mulai deh stress mikirin pembayaran bulanan yang semakin lama rasanya nyiksa ,sementara barang yang kita bayar wujudnya semakin mengalami penyusutan nilai..OH..
Memang sih godaan buat menangin ego tuh alami banget, apalagi kalo ego lagi parade didalam diri kita , nusuk nusuk biar kita bersikap kayak anak kecil yang minta diperhatiin mulu . Saya sendiri sudah beberapa kali jatuh ke godaan ego dan sengsara belakangan, tapi ada kata kata dari acara Oprah (sebenernya ini tentang diet), yang intinya bilang..kalau kamu ngerusak dietmu hari ini, daripada kesel dan putus asa yang berlebihan, sebaiknya kita menyadarai kesalahan kita dan melanjutkan diet kita aja.
Hal melepaskan sesuatu yang kita cintai untuk tumbuh berkembang juga hal yang sedang saya pelajari (bersama total keseluruhan sepuluh juta hal lainnya )..kadang ada perasaan ingin melindungi orang atau sesuatu yang kita sayangi agar dia terhindar dari masalah (atau yang setidaknya kita duga akan jadi masalah dikemudian hari), namun ternyata memungkinkan membuat seseorang itu jadi bonsai( bayangkan mini me dengan muka orang yang kita sayangi...creepy huh?), dan juga membuat kita tergoda untuk merasa bertanggung jawab pada hidup orang lain. Padahal aturan dasar dalam hidup ini adalah...semua orang bertanggung jawab pada hidupnya masing masing...
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya saya melanjutkan kegiatan yang lebih bermanfaat ( dalam jangka pendek..beda dong dengan menulis ini yang merupakan latihan untuk saya di kemudian hari mnejadi penulis handal dan memilik satu kolom sendiri----penting ya buat semua orang tau?ha ha ha).Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk J****u (nama disamarkan untuk keamanan pihak bersangkutan), untuk pujiannya pada tulisan saya (nunduk malu malu dengan pipi merona jingga..ha ha ha ha), dan buat Jengkol Ceking sahabat saya yang semakin hari semakin kurus kering (mohon dibaca sebagai keiri hatian seorang manusia yang dietnya gagal melulu) saya mendukung perjuangannya mencari cinta...
(intro)
Mr.X : Mbah Darmo..( nada suara dibuat buat berwibawa)
Mbah Darmo : Iya Mr.X?( muka bersemangat)
Hehehehe..jikalau saudara saudara bertemu dengan saya dalam waktu dekat ini, kemungkinan anda akan saya suguhi dengan salam pembuka itu..karena itu adalah salah satu tontonan yang menghibur, menghibur karena ketidaklucuannya menjadikan itu lucu..( bingung Mbah Darmo?)he he he
Saya akan segera beranjak pada topik hari ini, kita akan membahas tentang pelajaran mencintai...
Jadi apakah mencintai itu ? menurut pengalaman saya, mencintai adalah ketika ego leave the house ( seperti halnya Elvis meninggalkan building ), karena cinta dan ego adalah dua hal serupa tapi tak sama .Apa dong bedanya?
Yaa...kalau cinta itu seperti membeli barang dengan menabung dulu, kita menahan keinginan berfoya foya (coba ya bahasanya Roma Irama mania..ha ha ha), ngiler ngiler liat orang lain belanja belinji, tapi waktu akhirnya bisa dapet barang yang kita mau rasanya lega gimanaaa gituuu (secara membayangkan penderitaan kita kemaren hari)..
TAPI...(apa tuh maksudnya pake huruf gede gede? hiperbola banget ya?)
kalau ego tuh ibaratnya belanja pake kredit, seneng aja dulu tapi belakangan mulai deh stress mikirin pembayaran bulanan yang semakin lama rasanya nyiksa ,sementara barang yang kita bayar wujudnya semakin mengalami penyusutan nilai..OH..
Memang sih godaan buat menangin ego tuh alami banget, apalagi kalo ego lagi parade didalam diri kita , nusuk nusuk biar kita bersikap kayak anak kecil yang minta diperhatiin mulu . Saya sendiri sudah beberapa kali jatuh ke godaan ego dan sengsara belakangan, tapi ada kata kata dari acara Oprah (sebenernya ini tentang diet), yang intinya bilang..kalau kamu ngerusak dietmu hari ini, daripada kesel dan putus asa yang berlebihan, sebaiknya kita menyadarai kesalahan kita dan melanjutkan diet kita aja.
Hal melepaskan sesuatu yang kita cintai untuk tumbuh berkembang juga hal yang sedang saya pelajari (bersama total keseluruhan sepuluh juta hal lainnya )..kadang ada perasaan ingin melindungi orang atau sesuatu yang kita sayangi agar dia terhindar dari masalah (atau yang setidaknya kita duga akan jadi masalah dikemudian hari), namun ternyata memungkinkan membuat seseorang itu jadi bonsai( bayangkan mini me dengan muka orang yang kita sayangi...creepy huh?), dan juga membuat kita tergoda untuk merasa bertanggung jawab pada hidup orang lain. Padahal aturan dasar dalam hidup ini adalah...semua orang bertanggung jawab pada hidupnya masing masing...
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya saya melanjutkan kegiatan yang lebih bermanfaat ( dalam jangka pendek..beda dong dengan menulis ini yang merupakan latihan untuk saya di kemudian hari mnejadi penulis handal dan memilik satu kolom sendiri----penting ya buat semua orang tau?ha ha ha).Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk J****u (nama disamarkan untuk keamanan pihak bersangkutan), untuk pujiannya pada tulisan saya (nunduk malu malu dengan pipi merona jingga..ha ha ha ha), dan buat Jengkol Ceking sahabat saya yang semakin hari semakin kurus kering (mohon dibaca sebagai keiri hatian seorang manusia yang dietnya gagal melulu) saya mendukung perjuangannya mencari cinta...
menghadapi ketidaknyamanan
Telah dipublikasikan sebelumnya pada 12-06-2007
Salah satu kebiasaan jelek saya adalah menghindar.Sama dengan tidak suka mengkonfrontasi.Sama dengan alergi pada bentrokan emosi
Pengennya semua tenang damai aman terkendali.Rasanya semua orang juga begitu (ngarep...biar ada temennya)
Ini bahkan terlihat pada hal sepele dalam hidup, seperti ketika menonton film yang menegangkan...misalnya film Jelangkungnya Rizal Mantovani (maaf untuk film film setan lainnya dengan kualitas sinetron tidak cukup berhasil membangun ketegangan saya...we we weeee), begitu adegan membuat perut mules menjadi jadi kemungkinan besar tindakan yang akan saya lakukan adalah ...
a.mematikan suara
b.menutup mata
c.mematikan film sekalian
d.semua benar
yaa sudah bisa diduga jawaban yang dipilih adalah d, hi hi hi( dilakukan secara sistematis dan tingkat akurasi tinggi).
Kemarin malam, sesuai ritual sehari hari, saya menonton tv sebelum tidur (walaupun agak gelisah karena kebanyakan makan udah bakar dan soda gembira), sayangnya tontonan standar saya, Supranatural, sudah mulai kehilangan gregetnya..sepertinya susuknya Mas Dean udah mulai luntur tuh, dan saingan terdekatnya , Empat Mata juga sudah semakin menjenuhkan...tiba-tiba Jreeenngggg....ada Kick Andy di metro..wah boleh juga nih,sekali kali menyeimbangkan hiburan instan dengan simulasi yang lebih mengembangkan fungsi otak(ribettt deh luuuu...)
Bintang tamu tadi malam adalah AA Gym.
Saya sendiri tadinya termasuk orang yang kagum dengan pemikiran, kesederhanaan,dan sikap beliau, sampai akhirnya ikut kecewa bersama jutaan ibu- ibu di indonesia karena kasus poligami sang da'i.
Memang betul menikah lagi adalah hak beliau, dan di agamanyapun sah hukumnya..tapi mungkin yang lebih membuat saya terluka( empati yang sangat besar dengan teh nining ceritanya )adalah rasa ketakutan dari diri sendiri untuk menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang tingkat kebijaksanaan setinggi AA Gym pun bisa mengambil pilihan yang tidak populer yang berkecenderungan membuat orang melihat ini sebagai kekhilafan. Lalu bagaimana dengan kita? manusia yang berusaha mengikuti jejaknya dalam bersikap karena berharap beliau akan mengajak kita semua ke arah cahaya kemuliaan...tapi ini kok sama sama terjun bebas ke lumpur lapindo?
Setidaknya itu yang saya simpulkan sebelumnya.
Walaupun pada awalnya saya tertarik untuk mendengar penjelasan AA Gym atas kasus poligaminya, tapi ada perasaan yang sangat tidak nyaman muncul ketika Andy mulai membuka acaranya.Gelagat kecenderungan mengambil jawaban d mulai....
Kalau bisa dideskripsikan, perasaan itu campuran muak secukupnya, sedih dua siung, dan marah lima gram.Semua dibungkus dengan rasa penasaran dan menghakimi.
Setelah beberapa kali berusaha mengganti saluran, tapi ternyata rasa penasaran bisa mengalahkan ramuan ketidaknyamanan.
Pelan pelan setelah saya berusaha mendengarkan penjelasan AA Gym, semua terdengar masuk akal, rasa menghakimi mulai berkurang dan simpati mulai berkembang.Saya belajar bertoleransi.
Pilihan untuk menghadapi ketidaknyamanan ternyata berbuah manis.
Selesai acara itu ada perasaan hangat dalam diri saya karena sudah memaafkan AA Gym, karena sudah belajar menumbuhkan kasih pada beliau. Saya jadi ingat ajaran Pak Ngurah, hendaknya kita selalu menumbuhkan perasaan cinta kasih pada semua mahluk, itu yang membuat kita damai dan bahagia.Kebencian dan semua energi negatif dalam diri kita yang kita tujukan untuk menyakiti orang lain pada akhirnya paling besar menyakiti diri sendiri..
Salah satu kebiasaan jelek saya adalah menghindar.Sama dengan tidak suka mengkonfrontasi.Sama dengan alergi pada bentrokan emosi
Pengennya semua tenang damai aman terkendali.Rasanya semua orang juga begitu (ngarep...biar ada temennya)
Ini bahkan terlihat pada hal sepele dalam hidup, seperti ketika menonton film yang menegangkan...misalnya film Jelangkungnya Rizal Mantovani (maaf untuk film film setan lainnya dengan kualitas sinetron tidak cukup berhasil membangun ketegangan saya...we we weeee), begitu adegan membuat perut mules menjadi jadi kemungkinan besar tindakan yang akan saya lakukan adalah ...
a.mematikan suara
b.menutup mata
c.mematikan film sekalian
d.semua benar
yaa sudah bisa diduga jawaban yang dipilih adalah d, hi hi hi( dilakukan secara sistematis dan tingkat akurasi tinggi).
Kemarin malam, sesuai ritual sehari hari, saya menonton tv sebelum tidur (walaupun agak gelisah karena kebanyakan makan udah bakar dan soda gembira), sayangnya tontonan standar saya, Supranatural, sudah mulai kehilangan gregetnya..sepertinya susuknya Mas Dean udah mulai luntur tuh, dan saingan terdekatnya , Empat Mata juga sudah semakin menjenuhkan...tiba-tiba Jreeenngggg....ada Kick Andy di metro..wah boleh juga nih,sekali kali menyeimbangkan hiburan instan dengan simulasi yang lebih mengembangkan fungsi otak(ribettt deh luuuu...)
Bintang tamu tadi malam adalah AA Gym.
Saya sendiri tadinya termasuk orang yang kagum dengan pemikiran, kesederhanaan,dan sikap beliau, sampai akhirnya ikut kecewa bersama jutaan ibu- ibu di indonesia karena kasus poligami sang da'i.
Memang betul menikah lagi adalah hak beliau, dan di agamanyapun sah hukumnya..tapi mungkin yang lebih membuat saya terluka( empati yang sangat besar dengan teh nining ceritanya )adalah rasa ketakutan dari diri sendiri untuk menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang tingkat kebijaksanaan setinggi AA Gym pun bisa mengambil pilihan yang tidak populer yang berkecenderungan membuat orang melihat ini sebagai kekhilafan. Lalu bagaimana dengan kita? manusia yang berusaha mengikuti jejaknya dalam bersikap karena berharap beliau akan mengajak kita semua ke arah cahaya kemuliaan...tapi ini kok sama sama terjun bebas ke lumpur lapindo?
Setidaknya itu yang saya simpulkan sebelumnya.
Walaupun pada awalnya saya tertarik untuk mendengar penjelasan AA Gym atas kasus poligaminya, tapi ada perasaan yang sangat tidak nyaman muncul ketika Andy mulai membuka acaranya.Gelagat kecenderungan mengambil jawaban d mulai....
Kalau bisa dideskripsikan, perasaan itu campuran muak secukupnya, sedih dua siung, dan marah lima gram.Semua dibungkus dengan rasa penasaran dan menghakimi.
Setelah beberapa kali berusaha mengganti saluran, tapi ternyata rasa penasaran bisa mengalahkan ramuan ketidaknyamanan.
Pelan pelan setelah saya berusaha mendengarkan penjelasan AA Gym, semua terdengar masuk akal, rasa menghakimi mulai berkurang dan simpati mulai berkembang.Saya belajar bertoleransi.
Pilihan untuk menghadapi ketidaknyamanan ternyata berbuah manis.
Selesai acara itu ada perasaan hangat dalam diri saya karena sudah memaafkan AA Gym, karena sudah belajar menumbuhkan kasih pada beliau. Saya jadi ingat ajaran Pak Ngurah, hendaknya kita selalu menumbuhkan perasaan cinta kasih pada semua mahluk, itu yang membuat kita damai dan bahagia.Kebencian dan semua energi negatif dalam diri kita yang kita tujukan untuk menyakiti orang lain pada akhirnya paling besar menyakiti diri sendiri..
Label:
dari blog di friendster
Langganan:
Postingan (Atom)

