Rabu, 23 Juli 2008

menghadapi ketidaknyamanan

Telah dipublikasikan sebelumnya pada 12-06-2007

Salah satu kebiasaan jelek saya adalah menghindar.Sama dengan tidak suka mengkonfrontasi.Sama dengan alergi pada bentrokan emosi
Pengennya semua tenang damai aman terkendali.Rasanya semua orang juga begitu (ngarep...biar ada temennya)

Ini bahkan terlihat pada hal sepele dalam hidup, seperti ketika menonton film yang menegangkan...misalnya film Jelangkungnya Rizal Mantovani (maaf untuk film film setan lainnya dengan kualitas sinetron tidak cukup berhasil membangun ketegangan saya...we we weeee), begitu adegan membuat perut mules menjadi jadi kemungkinan besar tindakan yang akan saya lakukan adalah ...
a.mematikan suara
b.menutup mata
c.mematikan film sekalian
d.semua benar
yaa sudah bisa diduga jawaban yang dipilih adalah d, hi hi hi( dilakukan secara sistematis dan tingkat akurasi tinggi).

Kemarin malam, sesuai ritual sehari hari, saya menonton tv sebelum tidur (walaupun agak gelisah karena kebanyakan makan udah bakar dan soda gembira), sayangnya tontonan standar saya, Supranatural, sudah mulai kehilangan gregetnya..sepertinya susuknya Mas Dean udah mulai luntur tuh, dan saingan terdekatnya , Empat Mata juga sudah semakin menjenuhkan...tiba-tiba Jreeenngggg....ada Kick Andy di metro..wah boleh juga nih,sekali kali menyeimbangkan hiburan instan dengan simulasi yang lebih mengembangkan fungsi otak(ribettt deh luuuu...)

Bintang tamu tadi malam adalah AA Gym.
Saya sendiri tadinya termasuk orang yang kagum dengan pemikiran, kesederhanaan,dan sikap beliau, sampai akhirnya ikut kecewa bersama jutaan ibu- ibu di indonesia karena kasus poligami sang da'i.
Memang betul menikah lagi adalah hak beliau, dan di agamanyapun sah hukumnya..tapi mungkin yang lebih membuat saya terluka( empati yang sangat besar dengan teh nining ceritanya )adalah rasa ketakutan dari diri sendiri untuk menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang tingkat kebijaksanaan setinggi AA Gym pun bisa mengambil pilihan yang tidak populer yang berkecenderungan membuat orang melihat ini sebagai kekhilafan. Lalu bagaimana dengan kita? manusia yang berusaha mengikuti jejaknya dalam bersikap karena berharap beliau akan mengajak kita semua ke arah cahaya kemuliaan...tapi ini kok sama sama terjun bebas ke lumpur lapindo?

Setidaknya itu yang saya simpulkan sebelumnya.
Walaupun pada awalnya saya tertarik untuk mendengar penjelasan AA Gym atas kasus poligaminya, tapi ada perasaan yang sangat tidak nyaman muncul ketika Andy mulai membuka acaranya.Gelagat kecenderungan mengambil jawaban d mulai....
Kalau bisa dideskripsikan, perasaan itu campuran muak secukupnya, sedih dua siung, dan marah lima gram.Semua dibungkus dengan rasa penasaran dan menghakimi.
Setelah beberapa kali berusaha mengganti saluran, tapi ternyata rasa penasaran bisa mengalahkan ramuan ketidaknyamanan.
Pelan pelan setelah saya berusaha mendengarkan penjelasan AA Gym, semua terdengar masuk akal, rasa menghakimi mulai berkurang dan simpati mulai berkembang.Saya belajar bertoleransi.

Pilihan untuk menghadapi ketidaknyamanan ternyata berbuah manis.
Selesai acara itu ada perasaan hangat dalam diri saya karena sudah memaafkan AA Gym, karena sudah belajar menumbuhkan kasih pada beliau. Saya jadi ingat ajaran Pak Ngurah, hendaknya kita selalu menumbuhkan perasaan cinta kasih pada semua mahluk, itu yang membuat kita damai dan bahagia.Kebencian dan semua energi negatif dalam diri kita yang kita tujukan untuk menyakiti orang lain pada akhirnya paling besar menyakiti diri sendiri..

Tidak ada komentar: