Rabu, 23 Juli 2008

Roti Palm

Telah dipublikasikan sebelumnya pada 07-07-2008

Ada cerita dengan moral di weekend ini, jadi ada baiknya kalian menyiapkan cemilan, dan juga obat tetes mata (tidak wajib hukumnya tapi sekedar untuk jaga- jaga).

Kisah ini dimulai dengan reuni saya dengan roti Palm.uUuuWww......(gerakan badan bergetar seiring dengan mata menyipit dan mulut mengkrucut). Roti ini adalah salah satu jajan favorit saya jaman SD dulu, asli buatan Bali (satu level dengan roti sisir ramayana yang saya curiga kuningnya pake pewarna textil, tapi yaa...kalo tidak membunuh mungkin lama- lama juga meningkatkan daya imun badan?hi hi hi), ada beberapa pilihan rasa ; Kelapa( tulisan merah - kesukaankuuww), Keju (tulisan kuning- lebih mahal dari yang lain karena kejunya...terasaaaaa banget), Coklat (tulisan biru- enak tapi kalau coklatnya kena kunyah suka meninggalkan rasa ngilu di gigi), Selai nanas ( tulisan putih -dulu sering saya kira rasa kelapa, dan berkali kali tertipu lagi, mungkin sejenis disleksia untuk kasus relasi antara warna dan rasa ) dan pisang (maap pembaca saya lupa detailnya...hi hi hi, abis kemaren ga beli)

Pabrik pembuatannya ada di dalam salah satu gang di jalan Imam Bonjol Denpasar, mungkin karena sudah melewati masa kejayaannya, secara pesaingnya jaman sekarang sekelas Sari Roti, Bread Talk, dan semua geng roti dengan kwalitas standar bule, sekarang bangunannya kurang terawat, kalau saja tidak ada si Bapak yang menunggu terkantuk kantuk di balik meja yang terbuat dari tegel putih kotak a la tahun 80an, kita tidak akan bisa menduga masih ada kegiatan produksi roti disana.
Si Bapak juga tidak terlalu antusias dengan kedatangan kami, mungkin kami mengganggu jam 'uyuk-uyuk' sorenya, atau dikasus lebih ekstreem, dia dianugerahi wajah datar ( pembuat spongebob mendapatkan ide untuk tokoh Squidward dari si bapak ini?).
Saya dengan kalap menghamburkan uang (yang sebenarnya adalah uang ibu saya yang malang dan hanya bisa takjub melihat anaknya kesetanan sambil memilih roti juga tak berhenti henti mengunyah ha ha ha ha), total pembelanjaan kami 50rb-an dan mendapat setas kresek penuh roti yang penuh kenangan masa lalu saya.

Memang benar loh sodara sodara, kalau kalap itu cuma memuaskan sementara, setelah roti ke empat, saya mulai merasa agak 'uleg-uleg'an( terjemahannya adalah perasaan mual).
Disini pertarungan antara INGIN dan PERLU berkecamuk (mohon dimainkan genderang perang untuk efek dramatisnya).
Saya tidak perlu makan semua roti yang sudah saya beli, tapi saya ingin! Rasa ingin ini dengan cepat menemukan banyak alasan yang sangat dibuat buat tapi berusaha saya yakini kebenarannya. Menyedihkan sekali ya?
Begitulah manusia, seperti halnya kasus sebelumnya, penerapan teori pada praktek nyatanya sungguh berat! Saya mengerti bahwa secukupnya pasti lebih baik daripada sebanyak banyaknya, tetapi sisi anak kecil saya yang tamak kelihatannya cukup menguasai untuk beberapa lama...

Kalau ada yang iseng berkomentar, Ya ampun...itu kan cuma roti?!Ga usah didramatisir deh...
Justru untuk hal yang kecil yang kita rasa layak dan bisa dapatkan secara berlebih lebihan biasanya kita kehilangan kendali. Mungkin kasus roti Palm saya bisa menjadi kasus perhatian, cinta, penghargaan, pengakuan dsb pada kehidupan orang lain...bahkan juga dikehidupan saya sendiri...

Akhirnya ketika sampai di rumah, saya sudah sangat memaksakan mengambil dua bungkus roti lagi, dengan maksud mengamankan dari dihabiskan oleh kakak saya (aduh adik yang sangat pelit....memalukan sekali), rencananya akan saya habiskan sambil menonton acara debat calon gubernur Bali. Tapi memang begitulah daya tampung kita tidak bisa berbohong, roti yang saya kunyah sudah semakin kehilangan kenikmatannya, dan hasil akhirnya adalah 3/4 sisa roti saya bagikan pada Babi dan Bacil (anjing anjing kacangku yang sangat cantik) dan satu bungkus lagi dengan penuh kerelaan saya berikan pada kakak saya.
Ternyata melihat kakak saya makan dengan lahap (kalau kasus anjing saya...err..mereka selalu lahap eniwei) dan menikmati secukupnya untuk diri sendiri dengan sukses bisa membuat senyum yang lebar di wajah saya...
He..he..he....yaa begitulah cerita hari ini, sebenarnya masih banyak kata kata yang melompat lompat di kepala, tapi...kan hikmah dari kisah ini adalah bagaimana menikmati sesuatu secukupnya, jadi sekian untuk malam ini

Diiringi dengan musik dari lagu So Sick -Ne Yo

Tidak ada komentar: