Setelah cukup lama tak bersua, akhirnya semalam saya hangout bersama sahabat saya si Jekiy aka resepsionis yang suka mengaku sebagai dokter, dan juga tak lupa bersama si Koncrenk, yang bisa dikategorikan sebagai adik yang kecerewetannya sangat mengangeni,ha ha ha...
Pembicaraan tadi malam adalah tentang buku yang baru ini saya beli, berjudul Life Mapping oleh Brian Mayne & Sangeeta Mayne. Ada tiga prinsip dasar dari sistem ini.
Pertama adalah mengetahui siapa diri kita dan apa tujuan dalam hidup kita.
Banyak dari kita merasa terlalu sibuk untuk meluangkan waktu dengan diri sendiri, terlalu takut untuk sendirian, dengan paradigma bahwa sendiri identik dengan kesepian dan itu sangat menyedihkan. Saya sendiri memerlukan waktu cukup lama untuk merubah cara pandang saya tentang kesendirian, waktu saya masih ABG dulu (sekitar tahun 90'an gitu ya, jaman baju sekolah dua size lebih gede trus agak dikeluarin dikit...) saya memiliki 'Sindrom Malam Minggu'.
Jadi, setiap malam minggu,saat kita bisa begadang sesuka hati karena tidak khawatir harus bangun pagi untuk sekolah ( saya benar benar terganggu dengan rutinitas mendengarkan ocehan guru di pagi hari sementara usaha untuk mengumpulkan nyawa baru berhasil dilakukan mendekati waktu pulang sekolah..) ada perasaan sepi yang teramat sangat, mengingat semua teman saya asik dengan pacarnya, sedangkan saya merasa terlalu 'berbeda' untuk mencoba berpacaran pada usia itu. Aneh. Saya selalu merasa menjadi orang yang aneh diantara teman teman sebaya.
Hingga akhirnya, entah karena saya sudah punya pacar, atau karena setelah melewati masa wajib sekolah, malam minggu terasa biasa saja, atau karena masukan atas konsep baru tentang menikmati kesendirian, intinya sindrom itu menghilang. Senangnya.
Langkah Kedua adalah mendiskripsikan karakter yang kita inginkan demi terwujudnya keinginan kita.
Ini bahkan lebih sulit lagi, karena melakukan pengamatan atas diri sendiri melalui catatan harian ( dibaca sebagai rintangan = komitmen untuk mencatat). Lalu mendengarkan pendapat jujur orang lain tentang diri kita (senangnya punya teman yang pintar menganalisa, Pet..he he he thanks babe!), mendengarkan kelemahan diri bagaikan
dipaksa mendengar deritan kuku pada papan tulis. Nyeri. Tapi yah begitulah, itu kan pilihan hidup, saya sendiri yang ingin meningkatkan kualitas diri, bukan begitu?
Demikianlah dari hasil ini, kita bisa melihat kekurangan diri kita yang menghambat pencapaian tujuan hidup kita, lalu dari sini kita bisa menciptakan cara pandang yang baru tentang diri kita. Ribet?
Contohnya saya adalah orang yang percaya bahwa saya seorang pembosan.8 dari 10 teman saya membenarkan hal ini. Tapi dari kekurangan saya ini, saya melihat kelebihan (atau pembenaran?), bahwa memang benar adanya saya melompat belajar sana sini dan kelihatannya susah untuk fokus pada satu hal, tetapi kenapa harus fokus di satu hal?
Ada yang bilang supaya saya bisa memulai karir yang jelas di satu hal itu, ada yang bilang karena saya sudah terlalu tua untuk 'bermain main', ada banyak lagi pendapat yang intinya kurang setuju melihat cara saya menjalani hidup.Tentu mereka melakukan ini atas dasar kepedulian, karena sayang gituw lohhh..(dibaca dengan gaya berlebihan khas persenter binan yang menguasai pertelevisian kita)
Tapi ketika saya melihat garis mendasar dari permasalahan ini adalah di kurangnya komitmen saya menjalani semua yang saya ingin pelajari. Bukan masalah bosan. Bukan masalah berapa banyak hal yang saya ingin pelajari. Sehingga didorong oleh kekuatan tekad saya untuk belajar berkomitmen, kemarin oleh alam( sebenarnya oleh SPG Gramedia sih..) saya ditunjukkan sebuah buku tentang Mengikat Makna.(Apa!!ada penjelasan buku di dalam suatu penjelasan buku?!benar benar orang yang ribet...ck ck ck)
Buku ini mengajarkan kita untuk menulis kembali buku yang sudah kita baca (seperti yang sedang saya lakukan sekarang ini), sehingga selain melatih kebiasaan menulis, juga meningkatkan pemahaman kita akan buku tersebut. Satu langkah untuk melihat bahwa menulis adalah hal yang mudah dan membantu komitmen saya untuk menulis setiap hari.Wawwwwww dahsyaatt!!!!( kali ini meniru teriakan khas orang yang menjalani MLM)
Nah, yang ketiga dari Buku Life Mapping (tetap memasang muka serius dan pura pura tidak melihat pembaca yang meranggas kebosanan membaca blog yang maha panjang ini)
adalah menciptakan peta hidup kita.
Ini adalah bagian yang paling menyenangkan! (melihat tatapan tidak percaya pembaca yang sudah mual membaca sebegitu banyak penjelasan bercabang dari topik utama). Tapi sungguhan...di bagian ini kita mengaktifkan otak kiri dengan menulis dan memahami konsep yang kita inginkan untuk masa depan kita, dan menggambarkannya sesuai keinginan kita (aliran bebas,yang perlu mengerti hanya diri kita,sehingga bahkan bebek yang tergambar seperti kuda nil pun sah adanya)dalam rangka mengaktifkan otak kanan. Jadi mereka bisa bekerjasama mewujudkan impian kita. Keren ya?
Jadi begitulah resensi singkat tentang buku Life Mapping. Jika anda merasa tertarik mempelajarinya, saya sarankan untuk membeli di Gramedia karena dalam rangka hari Kemerdekaan mereka memberi diskon 50% (sementara saya pikir sudah membelinya dengan murah di Toga Mas yang diskonnya 15%!hu hu hu....).Mudah mudahan berguna dan membentuk diri yang lebih baik.Amiennnn.
-Blog ini ditulis dengan ditemani iringan lagu dari Southern All Stars-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar