Selasa, 16 September 2008

negatif

Logikanya kita pasti lebih suka pada orang yang positif ,dong?(terlihat Mbak yang duduk di pojok manggut manggut, sementara Mas yang pake baju ijo pura pura buang muka waktu ditanya, duuu..jual mahal,Om?)

Tetapi belakangan, rancah hiburan kita (cieh..kosa kata baru nih ) didominasi oleh presenter dengan kemampuan nyela yang gila gilaan. Memang dasarnya adalah becanda dan saya mengakui dengan gaya spontan seperti itu, acara jadi lebih hidup. Bahkan ada yang mengaku tertawa sampai terkencing kencing saking lucunya.
Kemudian saya berpikir tentang apa yang pernah diwejangkan oleh Bapak Guru Kundalini, berhati hatilah dalam berucap (mungkin Beliau seharusnya menjadi pengisi iklan salah satu provider seluler yang berseru 'Mulutmu Harimaumu'). Terdengar membosankan, tetapi jika dipikirkan lagi, ada benarnya juga.
Apakah karena dibungkus dalam wadah humor dan menghibur, maka mencela itu diasumsikan sebagai hal yang positif?

Saya pribadi mengakui sebagai orang yang suka mencela orang lain untuk lucu- lucuan (Lucu di elu, Empet di guwe-->dengus mereka yang tidak cukup cepat untuk menjawab celaan)
Apalagi, kalau teman main saya juga memiliki daya kreatifitas (sebenarnya yang bener kreatifitas atau kreativitas ya?)yang sebanding, wah itu akan menjadi hari dimana korban akan berjatuhan dimana-mana..
Salah satu partner saya dalam Kelompencabir ( Kelompok Pencerca dan Pencibir) beberapa bulan yang lalu sebelum menunaikan ibadah umrohnya, sempat terlibat pembicaraan, akankah dia menemukan balasan berupa celaan di Tanah Suci sono? (Waktu itu, saya dengan bijak sempat menyarankan agar ... Kalaupun iya, sekalian lah didobel, hitungannya sekalian dengan dosa saya, hi hi hi...)

Hal ini menegaskan bahwa pada dasarnya kitapun tidak suka dicela (walaupun jika itu dalam konteks becanda antar teman, kita bisa melakukan opsi untuk mencela balik atau melengos pura pura ngga notice, biar yang nyela mokal-->kosa kata yang ditemukan kembali sewaktu meeting dengan sesama pembaca Lupus).
Apakah karena celaan itu bukan ditujukan ke kita, sehingga muncul kesan menghibur? ( benar dong, kata Gde Prama, sekarang jaman SMS, suka melihat susah..)

Dengan dominasi acara gosip( plus narasi yang menggiring asumsi negatif penonton ), talk show yang penuh celaan ( bahkan kekerasan fisik seperti menabok, noyor, ngejogrogin dan semua komedi slapstick a la srimulat), seakan menciptakan paradigma ( buat yang kurang paham, paradigma itu cara pandang, bukan bimbel, kalo bimbel itu primagama, memang beda tipis...)bahwa tindakan negatif seperti itu adalah hal yang biasa, atau bahkan tidak menganggap bahwa itu adalah tindakan negatif ( biasanya jawabannya ...ngapain ngurusin gosip, mending urus tuh yang korupsi duit negara milyaran dolar...)

Dalam situasi yang carut marut (kosa kata baru lagi nih) mungkin hal mendasar yang bisa kita coba lakukan adalah menjaga ketenangan jiwa masing-masing saja. Kalau ada yang mau menyela, yaa itu hak dia mengotori rantai karmanya, kalau mau balas mencela, ya itu juga hak kita untuk mengotori rantai karma kita.
Tetapi jika itu membuat kita gelisah , saya rasa karena energi negatif tidak sesuai dengan energi cinta kasih alam semesta.

Untuk itu melalui blog ini saya mengucapkan permintaan maaf pada orang-orang yang telah saya cela untuk jadi bahan becandaan, terima kasih atas tawa yang telah tercipta pada situasi itu, mudah-mudahan pengorbanan anda mendapatkan balasan berkali kali lipat.
Mari kita belajar untuk selaras dengan alam ...

Tidak ada komentar: