Rabu, 23 Juli 2008

Kermit

Telah dipublikasikan pada 18 juli 2008 11:53 AM

Tidak ada nama yang lebih pantas. Kermit it is.

Pertama saya melihatnya, yang terbayang adalah sebuah keranjang buah dengan empat roda kecil dibawahnya.Mungil dan menggemaskan.
Dari awal dia memang sudah dibuat spesial (setidaknya begitulah pengakuan sang pemilik yang berinisial JKY), diklaim sebagai satu satunya Chevrolet Spark yang memiliki kulit jok hijau, diserasikan dengan warna catnya, dengan bingkai strip hitam yang beredar di kota Denpasar.

Saya akan menceritakan secara singkat sejarah kedatangan Kermit dalam hidup kami.
Kurang lebih empat tahun yang lalu, JKY yang pada masa itu baru datang dan mengadu nasib bekerja di Bali menjadi 'resepsionis yang suka mengaku sebagai dokter' akhirnya bisa membeli sebuah mobil yang sangat diidam idamkannya.
Mobil yang kurang populer, lengkap dengan analisa secara umum bahwa di kemudian hari perawatannya akan menguras kantong serta harga jual yang dipastikan terjun bebas.
Tapi dengan semua pertimbangan itu, kenapa dia tetap memilih untuk membelinya?

Mungkin disana letak unsur 'selera'. Dan JKY terlihat tidak berminat untuk berkompromisasi dengan semua pertimbangan diatas, dengan mantap tetap memilih sesuatu yang membuat dia merasa 'puas'.

Sejalan dengan bergantinya waktu, Kermit dengan setia menemani JKY berangkat ke kantor serta petualangan kami dari berputar putar tanpa tujuan(harap maklum,kondisi harga bensin jaman itu belum semahal sekarang), pergi keluar kota, menjemput teman-teman yang berlibur ke Bali (harusnya kita bikin souvenir dengan gambar Kermit buat mereka tuh..)diiringi lagu lagu the corrs(ditaruh pada cd changer secara permanen), a la 80-90'an (optional hanya jika mengajak orang dengan umur sepantar untuk bernostalgia), sok R n B dengan lagu so sick yang terus diulang sampai semua benar benar sick of it (ketika mbah Poksi numpang dan berlaku sewenang wenang), dan lagu klasik (no comment deh yang satu ini,VIGAROOO VIGAROOOO...).

Hingga tibalah saat ketika Kermit mulai menunjukkan gejala sakit sakitan. Mungkin karena didorong rasa sayangnya, JKY rela menjalani pola hidup orang melarat untuk bisa mengalokasikan dana yang cukup besar demi kesembuhan Kermit.
Perasaan lega terasa ketika Kermit bisa kembali meluncur dengan ceria, walau sayangnya tidak untuk waktu yang lama, karena beberapa bulan setelah itu penyakitnya kembali kambuh.

Pada titik itu tampaknya JKY dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Mempertahankan atau Menjual?
Mungkin jika disebarkan angket pada masyarakat awam, kemungkinan besar hasilnya 80% mengatakan dijual, 5% mempertahankan dan 15% menjawab tidak tahu.
Dilihat dari perhitungan logika memang keputusan menjual yang menjadi pilihan populer, dengan pertimbangan tidak ada jaminan bahwa penyakitnya bisa disembuhkan dan JKY hanya akan dirongrong secara perlahan dengan biaya perbaikan.

Kali ini JKY memilih logika. Bisa saya katakan itu adalah keputusan yang sangat berat, karena perpisahan dengan hal yang begitu banyak menyimpan kenangan adalah hal yang berat. Sangat berat.
Mendengar kabar Kermit akan dijual bisa saya gambarkan seperti ketika tengkuk dihembus angin yang sangat dingin, yang membuat kita terdiam dengan badan mengkerut untuk sesaat, lalu kemudian potongan kenangan demi kenangan mulai muncul secara acak diiringi emosi yang membingungkan yang kemudian perlahan saya sadari sebagai didominasi kesedihan. Biru
Memang kedengaran sentimentil sekali untuk begitu terikat secara emosi pada sebuah benda, atau kenangan di dalamnya.

Tapi bagaimanapun dia adalah Kermit kami....

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ini yang waktu itu kita di bali bukan sih? bilangin ma temen lo thx alot ya.. ^^ btw krn gw gak mutu nulis2in ni komentar.. mau gak di posting gpp kok.. kasian kan tulisan indah lo, seakan2 menjadi kotor oleh tulisan2ku ini..