Kamis, 07 Agustus 2008

Mbah

Nenek dari Karangasem dipanggil Nini. Nenek dari Tabanan dipanggil Mbah.Ketika saya sudah besar, yang teringat hanyalah betapa Mbah yang begitu sayang pada saya. Bukan berarti Nini tidak sayang, tapi mungkin masalahnya di kapasitas memori saya...

Tadi malam, setelah mendengarkan curhatan si Mbah di dapur ( detail kejadiannya adalah saya sedang sibuk mengulek cabe,garam,terasi,gula dengan siraman cuka dari Karangasem...slrruuppp..kemudian dicemlpungkan dengan ceria jeruk kintamani yang manis..mantap deh rujak buatan mbah poksi), oh ya kembali tentang curhat, bahwa si Mbah ingin dimanja sesekali , karena memang sampai umurnya yang sudah udzur sekarang ini, dia selalu terlihat sibuk ,entah digelayuti cucu-cucunya yang masih kecil (sementara cucunya yang sudah besar hanya menonton atraksi brutal oleh sepupunya, semacam tontonan a la smack down live), repot dengan segala tetek bengek atribut untuk sembahyang( karena cucunya yang sudah besar tidak becus membuat dan hanya menghabiskan janur untuk eksperimen), terlihat mondar mandir dengan perlengkapan harian pembantu rumah tangga( kalau yang ini sih karena cucunya yang besar ini setelah membabu sekian lama dan akhirnya sekarang agak trauma dengan atribut yang mengingatkannya pada pengalaman pahit sebagai anak bungsu..ha ha ha)Memang kedengerannya sadis ya, kok nenek sendiri di'siksa' sedemikian rupa?Tapi begitulah si Mbah, perempuan Bali sejati, yang selalu rajin bekerja, melayani keluarga, dan Tuhan....sehingga....

Untuk memberi variasi pada hidupnya, saya mengajaknya makan di d'cost, karena cerita bahwa nasinya cuma 1000 rupiah, si Mbah bersemangat ikut (ibu rumah tangga sekali ya...ha ha ha).Kami makan bertiga, saya, Mbah dan sepupu saya yang masih kecil yang kebetulan sedang liburan dan menginap di rumah. Kelihatannya Mbah tidak menyangka bahwa restaurant (atau yang sudah di indonesiakan menjadi restoran)yang nasinya 1000 trus boleh nambah sepuasnya itu cukup besar .Walaupun awalnya agak keder, tapi berbekal pengalamannya menjajal mall di Surabaya, terlihat dia berjalan agak pelan tapi pasti (setelah diselidiki ternyata jalan pelannya karena rematik ha ha ha).Setelah pesanan kami datang, si Mbah dengan sedikit memaksakan diri berusaha menggunakan sendok. Kasihan sekali, keliatannya nasi dan sendoknya punya dendam kesumat, karena lari larian tanpa bisa dikendalikan. Saya sendiri adalah orang yang suka makan dengan sendok, karena malas kalau tangan saya menyimpan aroma ajaib dari makanan,ditambah sekeliling saya semua makan dengan suara gemerinting sendok bertemu garpu, tapi melihat Mbah bersusah payah begitu, saya memutuskan untuk membuatnya bisa menikmati makanannya...mari kita makan dengan TANGAN!!!!Hebatnya ide ini ditolak mentah mentah oleh si Mbah yang mungkin ingin terlihat
modern :)Tetapi setelah saya mencuci tangan dan mulai makan dengan nikmat, tampaknya goyah juga iman si Mbah, akhirnya  dia mulai makan menggunakan tangan dengan  lahap hingga kekenyangan.

Sejak tadi malam sepulang dari restoran (yang istilah baratnya restaurant),beberapa kali Mbah mengatakan akan mengajak saudara saya yang lain untuk makan disana, karena namanya yang agak susah diingat, dia sudah mewanti sepupu saya untuk menghapal lokasinya, ha ha ha...Setelah saya pikir lagi, masakan disana sih biasa saja, harga juga kalau ditotal ya ngga murah murah banget, tapi mungkin kesan bisa makan dengan tangan di restaurant itu yang benar benar mengena didirinya.Kadang kita memang harus memberikan kebebasan untuk mereka menikmati sesuatu dengan cara mereka sendiri....

1 komentar:

Anonim mengatakan...

baik lo tu kaya gitu ya.. icic.. *hmmm* icic..

btw.. ini posting komentar musti pake persetujuan lo dulu ya.. ya ampyunnn.. ck ck ck..

iya gw tau bahasa gw simple dan kasar gak seperti dirimyuuu.. hiks..

awas loh gak diposting semua.. gw dah niat nih.. kaya nulis surat gw, bukan kaya nulis komentar yak.. bodo dah. yg penting gw dah niat.. jarang2 gw niat beginian kan.. hargaiii donggg.. *ngomel duluan sebelum ditindak lanjuti*