Selasa, 02 Desember 2008

Balada Bunga Ajaib

Seseorang pernah menceritakan tentang pohon besar dengan ranting- rantingnya yang kokoh dan menjulur tak beraturan itu. Konon katanya, pohon itu memerlukan waktu tahunan untuk berbunga, dan hanya orang- orang yang berjodoh dengannya yang bisa menjadi saksi atas keindahan bunganya.
Wah, misterius sekali, begitu batin saya ketika mendengar legenda si pohon, tapi seperti halnya legenda yang lain, keabsahannya cukup meragukan, walaupun tidak bisa dipungkiri sempat menggelitik rasa penasaran saya.

Semakin lama, orang- orang mulai bosan menunggu bunga ajaib itu muncul, satu persatu mulai meninggalkannya dan meyakini bahwa itu hanya bualan belaka.
Saya sendiri tidak pernah benar- benar serius dan mengabdikan diri pada pohon itu, hanya sesekali jika kebetulan saya melewatinya, saya sempatkan untuk memandangnya dan curhat ringan (iya, dengan si pohon), karena untuk alasan yang tidak jelas, mungkin hanya sugesti, tapi meluangkan waktu dengan si pohon bisa melepaskan stress saya.

Bertahun- tahun kemudian, dimana Walkman berganti dengan Discman lalu berganti dengan iPod, perangko menjadi benda yang purba, TVRI akhirnya memasang iklan pada acaranya, saat itu tidak ada satu orangpun yang menggubris si pohon. Sayapun sempat melupakannya untuk beberapa tahun, hingga akhirnya ketika iseng membongkar lemari, saya melihat foto lama dengan gambar saya duduk disamping si pohon, badan saya masih sangat kurus, senyum saya masih sangat lebar, sorotan mata saya penuh dengan semangat, dan seketika saya merindukan si pohon.

Saya kembali menyempatkan diri minimal seminggu sekali untuk menjenguknya, dahannya semakin kokoh, daunnya kini bisa menaungi hampir sepuluh orang dibawahnya, akarnya yang menebal menjadi tempat duduk yang cukup nyaman. Senangnya ketika saya bisa menemukannya, karena dengan adanya pembangunan perumahan elite di depan, keberadaan si pohon jadi tersembunyi di balik tingginya tembok rumah besar di kawasan ini.

Siang itu tidak akan pernah saya lupakan, ketika udara begitu panas, sehingga saya menempelkan gelas plastik berisi seperempat es jeruk saya ke kepala dan berharap segera bisa berteduh dan melepas rindu pada si pohon. Perlu setengah jam untuk saya menyadari bahwa benda kecil yang tumbuh itu adalah pucuk bunga. Benar, pucuk bunga yang ajaib itu! Jantung saya berdegub kencang, begitu keras hingga saya sendiri bisa mendengarnya, tangan saya gemetar, berkali- kali saya mengucek mata dan menggelengkan kepala. Pucuk itu begitu kecil, tapi dari kelopaknya yang masih menguncup saya bisa melihat keindahan warnanya, merah muda yang sangat lembut dengan ujung sedikit keunguan.
Semalaman tidur saya sangat gelisah, saya tidak bisa melepaskan bayangan pucuk bunga itu.

Pagi- pagi benar saya tergesa- gesa berlari untuk melihat si pohon, saya takut kehilangan momen bunga itu memekar. Keringat saya bercucuran , nafas saya tersegal segal, tangan saya menumpu pada batang pohon untuk bisa sekedar menjaga tubuh yang sempoyongan. Bunganya kini telah mekar separuh, begitu indah sehingga menyemburkan perasaan hangat di hati saya. Bibir saya menarik senyum lebar ketika menyadari wangi lembut dari bunga ini, seperti bau bedak bayi, begitu menentramkan.

Saya terduduk tepat didepan bunga itu, terhipnotis atas kecantikannya dan terbawa ke dalam suatu perasaan melayang layang, kegembiraan yang begitu halus dan merasuk ke setiap sel dalam tubuh saya. Beberapa saat ketika matahari semakin tinggi, bunga itu menunjukkan garakan mekar dengan sempurna, didiringi perasaan seperti ingin meledak oleh suka cita dalam diri saya. Tak sadar air mata saya menetes, badan saya bergetar tanpa bisa saya kendalikan, bibir saya gemetar mengucapkan pujian atas keindahannya.

Tapi semua bagaikan mimpi buruk ketika tak lama kemudian muncul gejala kelopak yang menjadi layu, perasaan saya bercampur aduk, separuh masih diliputi kebahagiaan tapi separuhnya lagi dikuasai oleh kekhawatiran dan semakin lama ketakutan itu semakin menguasai diri. Air mata bahagia berganti dengan isak tangis diantara doa yang saya panjatkan agar bunga itu tidak layu, setidaknya jangan secepat itu…

Ketika kelopaknya mulai berjatuhan, tangisan saya pecah dengan histeris, ini begitu tidak adil, kenapa saya tidak diberikan tambahan satu hari, atau satu jam, atau ……Satu menit lagi untuk menikmatinya?
Menjelang sore bunga itu telah layu, seiring dengan diri saya yang lemas tanpa tersisa sedikitpun tenaga, bahkan untuk menangis. Air mata saya telah habis, sekering lembaran kelopak bunga yang berserakan di tanah.

Perlu beberapa lama untuk saya memulihkan diri dari kesedihan itu, kehilangan sesuatu yang muncul hanya sekejap setelah penantian yang teramat sangat lama, yang mungkin karena itu menjadikannya suatu yang sangat indah.

Tapi saya yakin pohon itu pasti akan berbunga lagi, mungkin nanti atau esok hari.


Denpasar, 2 Desember 2008

1 komentar:

Anonim mengatakan...

umm.. diancam harus meninggalkan komen yak pocynyaaaa.. tapi saya takut salah ngomong.. membaca saja saya sulit.. hehehe...

i guess that's life.. maybe the tree wish kalau dia terbuat dari plastik dan bahan imitasi lainnya. but then again kalau begitu.. keindahannya pun akan berkurang.. ^^
tapi aku pikir pohonnya pasti sangat amat bahagia bisa show it flower to you.. its hard not to lol mungkin memang susah untuk menjaga bunga itu tetap mekar dengan indahnya secara langka kan bo.. ngurusinnya pasti tricky tuh.. but thats the tree problem.. its her lost.. but i bet the tree is sad too because bunga itu harus layu..

yeah.. i hope it will bloom it flower again and maybe u can witness it again if u wanna and the tree and the keeper will learn better..