Sedari kecil begitu banyak anak anjing yang datang dan pergi dalam kehidupan saya, beberapa bertahan hidup (untuk informasi tambahan ini bukan dikarenakan oleh siksaan saya, tapi karena serangan virus distamper yang sering meng-K.O anak anjing), si Bravo, anjing jantan berbulu coklat yang semakin tua semakin ganas dan memakan korban cukup banyak anak tetangga, sehingga dia dirantai (hu hu hu...) dan mati karena tua dan kesepian (maaf ya Bravo..), dan si legendaris Babi, anjing betina yang diadopsi dari rumah sahabat saya, Jengkol Ceking, yang kemudian tak henti hentinya memproduksi anak yang lucu, tapi sejauh ini yang selamat dari penculikan, virus, kecelakaan, dan semua hal buruk yang bisa menimpa seekor anak anjing adalah si Bacil (babi kecil).
Jadilah mereka sepasang anjing penjaga rumah dengan Bacil yang selalu memprovokasi gonggongan sehingga Babi terpancing untuk mengeksekusi korban yang malang itu ( korban dapat berupa anak kecil yang belajar naik sepeda, bapak- bapak yang suka meludah sembarangan, ibu-ibu yang kerepotan membawa belanjaan, nenek rumah depan, anjing tetangga yang badannya jauh lebih kecil dibanding mereka berdua-rumor mengatakan bahwa salah satu anjing yang paling bawel, bernama Pici Pici, meregang nyawa karena gigitan Babi yang mengoyak habis badannya dalam salah satu perkelahian akbar baru-baru ini).
Hingga di suatu malam, hujan turun dengan derasnya dan dari halaman terdengar suara geraman yang disusul dengan BAK BIK BUK (harap dibaca dengan improvisasi masing masing), ketika kami menghampirinya, terlihatlah seekor kucing kecil berbulu oranye tergigit , diayun ayunkan diujung mulut Bacil, hanya bisa mengeong panik.
Setelah tertegun beberapa saat, saya mementung Bacil dengan harapan kucing kecil itu bisa melarikan diri, tapi sayangnya si kucing terjepit ketika bersembunyi di sela pintu pagar, sementara hujan semakin deras!
Saya ditemani Moti dan Mbok Dek bagaikan tim SAR , dengan jas hujan dan membawa senter berusaha menyelamatkan si kucing malang, dengan keadaan baik si kucing dan kami yang sama- sama takut, kami memerlukan waktu sekitar setengah jam sampai akhirnya si kucing menyerah dan pasrah kami bopong ke dalam.
Sebenarnya tidak ada satupun dari kami menyukai kucing, sehingga kami tidak punya petunjuk tentang memelihara kucing, tepatnya kucing yang pahanya bolong tergigit anjing.
Besoknya kami membeli pasir untuk pipis kucing, dan cat food (yang dry dan yang basah-karena menurut pengalaman anjing di rumah tidak berselera dengan dry food, jadi yaa..untuk jaga-jaga). Kucing kami evakuasi ke ruang kerja Moti di lantai dua, sehingga tidak terintimidasi oleh duo Babi-Bacil.
Dalam beberapa hari terjadi kemajuan yang signifikan, si kucing mulai jinak pada kami, makan dengan lahap dan terlihat nyaman dengan kamar barunya. Sayangnya, mungkin dikarenakan oleh hujan atau tidak cocok dengan makanannya, si kucing (yang kemudian kami beri nama Meng) jadi mencret, yang tentu saja membuat stress kami semua. Dengan berbagai pertimbangan (termasuk didalamnya rencana melepaskannya kembali ke alam bebas), akhirnya kami memutuskan untuk membuatkan rumah kardus dan memeliharanya di pantry bawah sehingga lebih mudah membereskan segala kekacauan.
Malang tak bisa ditolak, ketika perut Meng sudah membaik (terima kasih atas resep Tante May, sarden yang dicampur norit), kelakuan Bacil kembali membuat trauma, Bacil dengan sukses menggigit pantat Meng hingga kulitnya boncel.Mengerikan sekali!
Kami hanya bisa terbengong bengong melihat penderitaan si Meng...tragis sekali hidupnya di rumah kami..
Kini setelah hampir sebulan, lukanya sudah nyaris sembuh, bahkan Meng sudah mulai tidur di sofa ruang TV (secara resmi sudah menjadi singgasananya) dan tidak terganggu oleh Bacil (setelah melihat Bacil selalu kena pentung setiap berusaha mengendusnya memberikan kepercayaan diri yang tinggi bagi Meng), bisa dikatakan Meng telah menjadi bagian dari rumah kami.
Bagi teman -teman yang ingin memberikan tips merawat kucing, saya akan sangat berterima kasih. Tampaknya cara memebentak tidak berpengaruh pada kucing ya?hu hu hu..
Selasa, 03 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar