
Tidak disangka dan tidak diduga, setelah cukup lama tidak aktif, pada malam ini akan muncul tulisan lagi!
Sebelumnya saya akan menyampaikan kondisi terkini dari penulis.
Dalam kurun waktu beberapa bulan saya dengan sukses telah menggemukkan diri (kenyataan pahit yang dibuat seolah- olah merupakan program terencana), saat ini hampir semua celana yang digunakan adalah yang berpinggang karet, baju terasa lebih sesak(terutama di bagian perut ),dan ketika duduk tercipta hanya satu lipatan perut...yang bisa diselipkan pensil di bawahnya..OHHH TIDAAKKKKK!!! (untuk lebih mendramatisir maka disertai gerakan menabrak terjatuh dan berlari tak tentu arah kembali).
Demikianlah, dengan kondisi fisik saya yang sedang tidak OK Banget ini ( terima kasih yaa buat saudara saudara dan teman teman yang sudah mengingatkan dengan tatapan iba itu..hu hu hu...), maka saya kehilangan kepercayaan diri untuk pergi bergaul (padahal alasan utamanya adalah krisis keuangan..fu fu fu).
Kenapa kita peduli atas pendangan orang lain, ya ?
Mungkin sebab yang mendasar adalah keinginan untuk diterima di lingkungan kita.
Ada beberapa teman ' seniman' yang bergaya 'nyentrik' , memang terlihat berbeda di lingkungan masyarakat pada umumnya, dengan standar dekil, awut- awutan (beberapa memilih gimbal), baju lusuh dengan cat disana sini, celana robek, untuk mereka tampil bersih dan rapi malah menjadi hal yang sangat risih.
Pada akhirnya mereka toh tetap terjebak pada stereotipe yang dibentuk oleh lingkungannya.
Suatu ketika, saya sangat ingin menjadi orang yang original. Melakukan tindakan dengan perasaan seutuhnya tanpa khawatir apa nanti yang dipikirkan orang lain.
Semua bermuara pada pikiran kita.
Saya percaya bahwa kita bukanlah pikiran. Pikiran lebih banyak dibentuk oleh ego kita ( termasuk pembenaran- pembenarannya, fakta pendukung dkk), tapi setelah sekian lama kita dilatih dengan logika, kita mulai percaya bahwa itu satu- satunya cara menjalani hidup.
Perasaan dasar manusia seperti cinta ditunggangi pikiran bahwa sebaiknya cinta itu berbalas, kalau engga, kamu akan terlihat menyedihkan sebagai pengemis cintaaaaaa ( joni iskandar mode on)..karena itu banyak orang yang alergi pada kata cinta...
Ada yang berusaha menyiasati ego(yang berkedok cinta) dengan mengikat pasangannya melalui ' status', dengan harapan cara ini bisa membuat pasangannya merasa berdosa jika mencintai orang lain, ini hanya akan membawa makin banyak orang yang berbohong.
tidak original. hidup dalam rutinitas yang membosankan tapi aman.
Pemikiran ini membuat orang- orang melihat saya sebagai pembosan, tidak bisa bertahan pada suatu hubungan. Tidak sedikit teman yang menasehati untuk sattle down, berhenti bertualang, tapi apakah itu membahagiakan? Tidak sedikit dari mereka yang mengakui kejenuhan , berselingkuh, berbohong, berprasangka, bahkan tidak sedikit yang merasa 'terjebak', mau cerai malu, tapi kalau dijalanin udah seperti neraka.Ibarat makan buah simalakama--->dimakan mati ga dimakan mati, jadi dikulum kulum aja?
Memang ada juga yang benar-benar menikmati memiliki partner yang bisa dipercaya untuk berbagi pemikiran, untuk mereka saya ikut bersyukur karena telah memberikan gambaran yang baik tentang hidup monogami.
Ngomong-ngomong saya pernah membaca penelitian yang dilakukan di dunia barat yang mengatakan sebenarnya manusia bukan mahluk monogami, satu satunya yang membuat manusia bisa memilih menjadi monogami adalah adanya cinta ( atau itu sebenarnya ego?).
Demikianlah pembicaraan kita sudah ngelantur kemana- mana ( gejala kurang mizone ), mungkin karena sudah malam, hujan, lapar, usaha diet...uhhhh.... malam yang berat dan perut yang lapar... mudah mudahan bisa diambil saripatinya (nada pembawa acara infoteinmen yang super dibuat buat).
p.s Kok Joni Iskandar sekarang rambutnya direbonding sih?ga aciiiii nih...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar