
Sebenarnya ini adalah tulisan yang dibuat kemarin, karena ada gangguan koneksi (@ Jeki: gw ngerti Jek, ternyata selain kalo dipake dibawah koneksinya ajrut ajrutan, kalo modemnya panas langsung ngadat dengan manisnya ha ha ha), jadi baru saya publikasikan hari ini, selamat membaca..
Hari ini dimulai dengan perasaan agak terganggu oleh pertanyaan ibu saya (atau lebih tepatnya anjuran)..AYO SELESAIKAN KULIAHNYA...
Hawa tiba- tiba mendingin, otot muka menegang, mulut manyun..Membayangkan untuk kembali mengurus nilai langsung membutekkan pikiran.
Memang sudah hampir setahun saya tidak aktif berkuliah ria, ini dimulai dari kejadian huru hara di kampus, akibat persengketaan memeperebutkan jabatan rektor.
Tapi sebenarnya tanpa adanya kasus itu pun, saya memang agak kurang bersemangat mengikuti kuliah yang saya tidak minati...ha ha ha...iya, saya tau sistem belajar seperti ini ngga akan membantu saya bisa lulus cepat, tapi gimana ya, sesuatu yang tidak saya kerjakan dengan antusias hanya akan menghasilkan keluhan dan merusak kebahagiaan hidup saya.
Hampir semua orang menganggap bahwa saya pemalas, pembosan, dan semua image sejenisnya. Sah sah saja, karena saya pun sempat mempercayai pendapat itu, sampai suatu hari salah satu sahabat saya, Sapiy ( xoxoxoxox) mengirimkan e-mail yang sangat menggugah hati.
Isinya tentang perjalanan hidup Steve Jobs, seorang milyuner pendiri Apple Computer.
Diceritakan bahwa sewaktu kuliah dia hanya menekuni kelas yang dia sukai, hingga akhirnya dia dikeluarkan dari kampusnya. Tapi karena hal yang dia sukai itu , dia bisa menciptakan komputer pertama dengan tampilan lebih menarik dan menjadikannya kaya raya.
Jadi saya rasa adalah hak orang lain untuk memberi pendapat tentang apa yang mereka percayai, tetapi adalah juga hak kita untuk memutuskan jalan terbaik yang bisa membuat kita bahagia.
Mungkin dengan memiliki titel akan lebih memudahkan untuk mencari pekerjaan, lalu mandiri dengan pendapatannya, lalu mulai membeli apapun yang bisa mengobati stressnya pada pekerjaan, atau sekedar pembuktian pada masyarakat akan 'kesuksesannya', tapi apakah itu yang disebut bahagia?
Saya ingin seperti mereka yang mengutamakan kepuasan hati dalam melakukan hal yang disukainya, sehingga uang bukanlah tujuan utamanya, hanya sebagai bonus yang menyenangkan. Oh ya, memang terdengar seperti impian, tapi seperti kata orang bijak, semakin kuat kita bisa memvisualisasikan impian kita, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkannya.
Jadi disini saya akan menceritakan impian saya.
Saya selalu menyukai buku, saya suka menulis, saya suka menggambar, saya suka bertemu orang- orang dan saling bercerita tentang hidup, saya suka binatang dan ( recently) suka pada tanaman.
Ketika saya kaitkan semua, maka yang terlihat adalah sebuah tempat dengan buku (bisa jadi toko buku) dan gallery .
Sebuah tempat berkumpulnya orang untuk membicarakan hal menarik dari hidup, bersantai dengan piaraannya di suasana alam yang hijau.
Demikianlah, menceritakan tentang mimpi memang tidak semudah memendam impian, ada ketakutan akan ditertawai, dipermalukan, diremehkan, bahkan oleh orang-orang terdekat kita. Tapi saya rasa ini adalah salah satu ujian dalam menjadi original, bukan begitu?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar