Senin, 08 September 2008

kampus yang menyedihkan...


Walaupun saya masih terdaftar sebagai mahasiswa di Institut Seni Indonesia Denpasar, tetapi pada prakteknya saya mempunyai cara sendiri untuk belajar disana.
Saya hanya mengambil mata kuliah yang saya senangi, dan sering tidak peduli dengan ujiannya, ha ha ha...kebayang kan berapa SKS yang baru saya kumpulkan?

Tapi kembali lagi, saya kurang percaya bentuk penilaian a la sekolah formal, saya senang belajar tapi bukan untuk mengejar selembar ijazah.

Tadi siang, dalam rangka ingin membaca buku import dengan tenang dan mencari ide kratif untuk proyek iklan teman, saya main ke perpustakaan ISI (koleksi buku importnya boleh lah..maklum bantuan luar negeri).
Wah, begitu masuk terpampanglah pemandangan hiruk pikuk di halaman kampus...

Ternyata mahasiswa melakukan demo , konon hal ihwalnya dimulai ketika senat ISI dan beberapa dosen telah melakukan pemilihan rektor baru, yang dimenangkan oleh Pak Catra, tetapi ada 33 dosen yang menganggap hal itu tidak sah, sehingga mengajukan keberatan ke Jakarta.
Turunlah surat dari Jakarta yang mengesahkan pak Rai untuk menjabat kembali sebagai rektor. Yaa...sudah bisa diduga, mahasiswa jadi murka karena sebagai senat keputusannya tidak diperhatikan. Intinya ribet deh...

Bagusnya demo tadi dibuat teatrikal, dengan tarian dan pembacaan narasi seperti puisi (maaf neng, ga jelas maksudnya ), dan ada beberapa kejadian lucu, dimana mahasiswa seni rupa dengan badan blontang blonteng penuh cat ceritanya merayap rayap di tanah, dan ada salah satu yang terguling ke lobang dengan tidak sengaja (maklum sedang ada penggalian untuk perbaikan jalan depan kampus), juga pengisian suara spesial efek seperti kuntilanak yang jatuhnya seperti kuntil anak kurang makan Hexos, tercekik cekik ..ha ha ha

Yang mengerikan adalah dengan dugaan senat ISI tidak sah, maka sarjana lulusan ISI yang telah dinyatakan lulus melalui rapat terbuka senat terancam tidak sah juga dong?ck ck ck...

Sepertinya ini petunjuk bagi saya untuk menyudahi berkutat di ISI, mungkin lebih baik berkosentrasi menulis saja ya?

Tidak ada komentar: