Minggu, 07 September 2008

penyelundup

Di kota dimana kamu tidak boleh tidur dengan binatang peliharaan, kamu harus pintar- pintar untuk menyelundupkannya ke kamarmu.
Ada yang melakukannya ketika malam sudah larut, saat semua penghuni rumah sudah tertidur.
Ada yang melakukannya justru ketika orang lain sedang khusyuk berdoa.
Bagitulah pemanfaatan daya imajinasi dan kemampuan mencari solusi dari otak manusia.

Gelagat teman serumahku sangat mudah dibaca.
Pertama dia akan sibuk mondar mandir di ruang tamu (karena batas kewajaran untuk binatang peliharaan hanya sampai ruang tamu), bolak balik ke kamar mandi ( aku rasa masalah psikologis, semacam penyakit kompulsif yang selalu ragu apakah dia sudah cukup bersih , cukup wangi atau belum), dan terakhir adalah hal yang tidak pernah dia lakukan saat dia tidur sendiri, mengunci pintu.

Pernah sekali aku menangkap basah binatang peliharaan itu di kamarnya. Mukanya merah padam dan dari bibirnya hanya bisa menggumamkan suara, “auuhh..auhhh…”
Aku terkejut setengah mati, aku kira ada monster yang menerobos masuk, tapi ketika menyadari itu hanya binatang peliharaan temanku, kelihatannya masalahnya tidak segawat perkiraan pertama.
Atau, apakah seharusnya kuanggap gawat?
Bagaimanapun, memasukkan binatang peliharaan (dan entah apa yang dilakukan didalam sana) adalah tindakan yang melanggar norma. Tetapi dulu, sewaktu aku masih suka merasa kesepian ,diam-diam akupun sering melakukannya, bahkan beberapa binatang peliharaan itu aku hias dengan pita, sehingga sepintas mirip boneka.Ha ha ha ha…..

Mungkin karena itu aku tidak terlalu mempermasalahkanya. Jika iya, seharusnya di jidatku dicetak ‘ MUNAFIK’.
Lagipula apa sih hukum itu? Kebenaran?
Semua orang punya versi mereka sendiri tentang kebenaran, mungkin mengembangkan toleransi jauh lebih masuk akal dibanding ngotot memaksakan kebenaran versi kita.
Pada akhirnya toh alam akan menyeleksinya, jadi aku rasa lebih baik menyimpan energi untuk debat kusir yang tak berguna.

Malam ini aku merasa gelisah karena teman serumahku mengunci pintu. Hmm… I wonder..

Tidak ada komentar: