Kemarin siang, saya diajak mencari makanan padang oleh sahabat saya, si kembaran Mayangsari. Menurut pengakuannya sudah dari semalam dia tidak makan (yang kemudian diralat bahwa semalam sambil menyetir pulang dia menggerogoti martabak yang seharusnya buat oleh- oleh, hi hi hi).
Sahabat saya ini adalah salah satu orang yang cukup cepat bisa merealisasikan impiannya (penganut dan praktisi 'The Secret'), mungkin karena kemampuan visualisasi yang tingga, atau buah dari karmanya menjadi orang yang baik?
Sekitar pertengahan tahun lalu, ketika dia baru back for good ke Bali, sewaktu kita sedang berburu donat j.co (dan kini menyesali lemak menggelambir yang ditimbulkannya..hiks!), dia sempat berkata bahwa tahun depan dia menginginkan sebuah mobil seperti yang ada di parkiran. Mobil yang bagus dan terlihat mantap untuk seorang wanita karier, sementara saya berkata saya mau tetap naik sepeda mini!
Kemudian, beberapa bulan yang lalu dia sudah berhasil membeli mobil impiannya dan saya tetap dengan sepeda mini saya (Blar!..ternyata Tuhan Maha Mendengar..ha ha ha ha). Tentunya ini dirayakan dengan berjalan- jalan dengan si mobil baru, wah memang
ada harga ada kenyamanan (duit emang ga bohong-->kata miss universe iklan U-c 1000).
Semua memuji mobil barunya, dan dia terlihat sangat gembira (campur was was, maklum baru bu...).
Kembali ke kejadian kemarin (gila flash back ke masa lalunya hampir separuh cerita, ha ha ha), sebelum bertemu dia, saya mengendarai si Kermot (adik tiri dari Kermit-baca cerita selengkapnya di post Kermit- yang meratapi nasibnya tiap hari karena tidak dicintai sebesar kakak tirinya...Ibu Jeki hanya cinta kepada si Kermit saja...*disenandungkan dengan nada lagu Ibu Tiri*). Saya patut mensyukuri memiliki teman- teman yang berbaik hati mempercayakan mobilnya untuk saya pinjam-pinjam, aahh...terima kasih terima kasih...
Beranjak dari Kermot si city car ke mobil si Mayangsari yang BESAR, seperti masuk ke dimensi lain (wah ini sih hiperbola banget cui...), ya intinya ngerti kan sodara- sodara?
Kemudian, seperti yang sudah- sudah penobatan untuk menjadi sopir dimulai (ini berarti teman-teman mempercayai nyawanya pada saya..hu hu hu mengharukan..), karena tenaganya besar jadi tarikannya sangat mantap.Hmm...wawawawawa...
Demikianlah akhirnya hampir malam dan kami bubaran, saya kembali menyetir si Kermot terbersit pikiran, "Kenapa mobil ini jadi sempit, ya? ah..masa' gw dalam waktu seketika menggede? kan tadi cuma makan sop ayam doang..."
Begitulah penyesuaian diri beberapa detik, lalu kembali menyatu dengan si Kermot.Dan menyetir dengan ugal-ugalan lagi, ha ha ha...
Jadi....hikmah dari cerita yang maha panjang di atas adalah...
Saya mensyukuri semua mobil yang bisa saya kendarai, kenyamanan yang diberikan (lihat yang naik motor kehujanan trus kepanasan...huhuhuhu...), walau itu hanya meminjam.
Seringkali kita jadi menyia-nyiakan sesuatu yang kita rasa miliki, tetapi lebih bisa menghargai sesuatu jika itu hanya meminjam. Padahal kalau dipikir pikir lagi akhirnya semua bawaan kita di hidup ini akan kembali ke Tuhan, jadi pada dasarnya kita semua hanya 'peminjam'.
Mungkin dengan menyadari kenyataan sebagai seorang peminjam, kita akan lebih bisa memaknai semua hal yang bisa kita peroleh dalam hidup.Semoga.
Sabtu, 16 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar